Kamis, 25 April 2013

Inquisisi Gereja: Noda Hitam Sejarah Barat


by: Adian Husaini

Hegemoni Barat dalam studi Islam sudah menjadi masalah yang kronis dewasa ini. Para orientalis telah menghegemoni dan menginfiltrasi semua bidang kajian Islam (Islamic studies), termasuk bidang sejarah. Fenomena umum dalam studi Islam versi orientalis Yahudi-Kristen biasanya ditandai dengan cara pandang sejarah Islam dari perspektif sejarah peradaban Barat. Istilah-istilah yang khas untuk peradaban Barat  ditransfer begitu saja untuk membaca fenomena sejarah peradaban Islam, seperti istilah liberalisme, sekularisme, fundamentalisme, konservatif, ortodoks, inquisisi, dan sebagainya. Istilah yang terakhir itu, biasanya digunakan untuk menyebut beberapa kasus pembunuhan yang dilakukan penguasa Muslim terhadap sebagian warga Muslim atau non-Muslim.
Meskipun ada beberapa unsur yang sama, tetapi istilah inquisisi tidaklah tepat diaplikasikan untuk fenomena sejenis dalam sejarah Islam. Sebab, dalam sejarah Barat, inquisisi dilakukan oleh pihak institusi Gereja yang secara stuktural merupakan institusi resmi keagamaan. Sebaliknya, dalam berbagai kasus pembunuhan atau kezaliman penguasa Muslim, tidak mendapatkan legitimasi keagamaan. Sebab Islam tidak mengenal struktur kependetaan yang merupakan wakil Tuhan di muka bumi. Disamping itu, Gereja memiliki doktrin eksklusivisme teologis yang memiliki hak untuk memaksakan pembaptisan dan mengeksekusi kaum non-Kristen yang menolak untuk dibaptis. Islam tidak mengenal tradisi persekusi terhadap agama lain. Meskipun memegang doktrin eksklusif dalam teologi, sejarah Islam bisa dikatakan bersih dari tradisi pemaksaan terhadap pemeluk agama lain untuk memeluk agama Islam.
            Di Barat, inquisisi telah menggoreskan trauma yang mendalam terhadap persepsi dan sikap orang Barat terhadap agama Kristen. Mereka kemudian mengambil sikap apatis dan membatasi peran agama dalam bidang kehidupan. Gereja tidak lagi diberi kesempatan untuk ‘berkuasa’ dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Gereja diberi tempat semata-mata mengurusi bidang ‘kerohanian’, dan masyarakat dan negara melepaskan diri dan kekuasaan dan hukum-hukum agama. Fenomena sejarah seperti ini sebenarnya tidak sesuai jika diterapkan untuk masyarakat Muslim. Tetapi, dominasi dan hegemoni Barat di dunia Islam telah lama memaksakan pengalaman sejarah dan konsep mereka terhadap semua agama.

Definisi dan sejarah

The New Encyclopaedia Britanica menjelaskan “inquisisi” sebagai suatu institusi hukum kepausan yang dibentuk untuk memberantas kaum heretics 1 dan sejenis pelaku magic dan kekuatan yang dianggap berbahaya. Nama “inquisisi” diambil dari bahasa Latin  “inquiro”  (inquire  into), yang menekankan adanya fakta bahwa inqusisitor tidak menunggu laporan akan adanya heretics, tetapi aktif menyelidiki kaum heretics itu dan kelompok-kelompok lainnya yang dianggap menyerang doktrin Gereja. Setelah Gereja melakukan konsolidasi kekuatannya di awal Abad Pertengahan (Middle Ages, 500-1500 M), kaum heretics ini dipandang sebagai ‘musuh masyarakat’. Dengan adanya kemunculan kaum heretics dalam skala besar di abad ke-11 dan ke-12, Paus Gregory IX, pada tahun 1231 membentuk institusi Inquisisi Kepausan (Papal Inquisition) untuk memburu dan mengadili kaum heretics. 2
Di Spanyol, misalnya, Inquisisi secara resmi dibentuk oleh Paus Sixtus IV pada November 1478, dan baru berakhir pada 1820. Pembentukan ini dipicu oleh laporan bahwa para Yahudi dan Muslim yang dipaksa memeluk Kristen  (dikenal sebagai conversos dan marranos) masih tetap mempraktikkan ritualitas agama lama mereka. Pada tahun 1480, dimulai satu penyelidikan dan pengadilan terhadap mereka di sebuah jalan utama di Kota Barcelona, yang dikenal sebagai Ramblas. Di sini, semua korban disiksa. Kaum Kristen yang berasal dari Yahudi, misalnya, dicap sebagai heretics karena masih mempraktikkan tradisi Yahudi, seperti mengenakan baju linen setiap Hari Sabtu, atau tidak mau memakan babi.  Dalam setahun saja, sebanyak 300 orang telah dibakar hidup-hidup. Kondisi kaum Yahudi dan Muslim menjadi lebih buruk  setelah Tomas de Torquemada diangkat sebagai “inquisitor general” untuk Castil dan Aragon, tahun 1483. Jumlah yang dibakar hidup-hidup semakin banyak. Tidak puas dengan membantai para “Yahudi tersembunyi” (crypto-Jews), Torquemada kemudian berusaha mengusir seluruh Yahudi dari Spanyol. Upaya ini kemudian berhasil, dengan dikeluarkannya perintah pengusiran Yahudi dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella, yang dikenal dengan General Edict on the Expulsion of the Jews from Aragon and Castile. 3
Cerita pembantaian dan pengusiran Yahudi di Portugal juga sangat mengenaskan. Setelah diusir dari Spanyol, sebagian pengungsi Yahudi menuju Portugal mengharapkan perlindungan dari Raja Joao II. Penduduk Yahudi di Portugal menyuap raja ini agar diberikan izin tinggal. Mereka mendapatkan izin tinggal, tetapi hanya  untuk delapan bulan. Ketika habis batas waktu tinggal di Portugal, pengungsi Yahudi itu harus pergi dan banyak diantaranya yang mati karena penyakit. Tetapi, mayoritasnya masih tetap dapat tinggal di Portugal. Raja Joao II meninggal tahun 1495. Penggantinya, Raja Manoel I, memutuskan untuk memberikan izin tinggal kepada pengungsi Yahudi. Tetapi, setahun kemudian, Manoel I menandatangani “kawin kontrak” dengan Infanta Isabella dari Spanyol. Salah satu syarat perkawinan itu adalah “pengusiran seluruh Yahudi dari Portugal”, baik pengungsi Yahudi dari Spanyol atau pun Yahudi yang sudah berabad-abad menetap di Portugal. Manoel berharap kaum Yahudi mau dibaptis menjadi Kristen untuk meringankan “hukuman” mereka. Jika tidak, ia memaksa anak-anak Yahudi yang berumur antara 4-20 tahun untuk dibaptis. Banyak kaum Yahudi menolak perintah untuk dibaptis. Mereka lebih suka meninggalkan Portugal. Tetapi, Manoel hanya mengizinkan tempat pemberangkatan Yahudi itu dari Lisabon. Faktanya, di sana tidak cukup tersedia perahu untuk mengungsikan mereka. Maka, ketika batas waktu pengusiran itu habis, Yahudi dewasa yang berkumpul di Lisabon juga dipaksa untuk dibaptis. Banyak yang menolak pembaptisan paksa itu akhirnya dibunuh. Tetapi, sebagian besar selamat, meskipun harus menjalani hukuman penjara. Karena cara pembaptisan paksa ini pun gagal, maka Manoel akhirnya mengizinkan Yahudi meninggalkan Portugal. Dan pada tahun 1498, Portugal dapat dikatakan  bersih dari Yahudi. Mereka meninggalkan Portugal, utamanya mengungsi ke Belanda, Uthmani, dan Polandia. 4

Institusi jahat

Kekejaman Inquisisi telah memunculkan berbagai kecaman dan kritikan hebat dari kalangan Kristen sendiri. Sebab, yang menjadi korban kemudian bukan hanya kaum Kristen yang dianggap sebagai menyimpang dari doktrin resmi Gereja (heretics), tetapi juga berbagai kelompok lainnya yang dianggap mengancam doktrin dan hegemoni Gereja, seperti kaum Muslim, Yahudi, wanita tukang sihir (witchcraft) 5 dan sebagainya.  Karen Armstrong menggambarkan kejahatan institusi Inquisisi dalam sejarah Kristen sebagai berikut:
 Most of us would agree that one of the most evil of all Christian institutions was the Inquisition, which was an instrument of terror in the Catholic Church until the end of seventeenth century. Its methods were also used by Protestants to persecute and control the Catholics in their countries. 6 (Sebagian besar kita tentunya setuju bahwa salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat adalah Inquisisi, yang merupakan instrumen teror dalam Gereja Katolik sampai dengan akhir abad ke-17. Metode inquisisi ini juga digunakan oleh Gereja Protestan untuk melakukan persekusi dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka).

Richard McBrien juga memberikan catatan tentang Inquisisi Gereja ini:

 In 1252 Pope Innocent IV (d. 1254) authorized the use of  torture to secure proof of heresy. By all reasonable standards, the inquisition was one of the shabbiest chapters in  the entire history of the Church. 7 (Pada tahun 1252 Paus Innocent IV (m. 1254) mengesahkan penggunaan siksaan untuk mendapatkan bukti-bukti dari kaum heretics. Dengan menggunakan semua standar yang masuk akal, (bisa dikatakan) bahwa Inquisisi adalah satu bab yang paling buruk dalam seluruh sejarah Gereja).

Kekejaman Inquisisi di Spanyol terhadap kaum non-Kristen digambarkan dengan panjang lebar oleh Henry Charles Lea dalam karya monumentalnya A History  of the Inquisition of Spain, (empat volume), (New York: AMS Press Inc., 1988). Dalam bukunya ini, Lea membantah bahwa gereja tidak dapat dipersalahkan dalam kasus Inquisisi, sebagaimana misalnya dikatakan oleh seorang tokoh Kristen, Father Gam, yang menyatakan: “The inquisition is an institution for which the Church has no responsibility.”  (Inquisisi adalah satu institusi dimana Gereja tidak memiliki tanggung jawab untuk itu). Ini adalah salah satu bentuk apologi di kalangan pemimpin Kristen. Lea menunjuk bukti sebagai contoh bahwa dalam kasus bentuk hukuman terhadap korban inquisisi, otoritas gereja mengabaikan pendapat bahwa menghukum kaum “heretics” (kaum yang dicap menyimpang dari doktrin resmi gereja) dengan membakar hidup-hidup adalah bertentangan dengan semangat Kristus. Tapi, sikap gereja ketika itu menyatakan, bahwa membakar hidup-hidup kaum heretics adalah suatu tindakan yang mulia. Karen Armstrong juga menyatakan, bahwa persekusi kaum heretics, Muslim, Yahudi, dan lain-lain, jelas-jelas berlandaskan agama. 8 
Tentang upaya sebagian tokoh Gereja melalukan sikap apologetik dalam soal Inquisisi, Peter de Rosa, dalam bukunya, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, mencatat, bahwa sikap itu hanya menambah kemunafikan menjadi kejahatan. (it merely added hypocricy to wickedness). Yang sangat mengherankan dalam soal ini adalah penggunaan cara siksaan dan pembakaran terhadap korban. Dan itu bukan dilakukan oleh musuh-musuh Gereja, tetapi dilakukan sendiri oleh orang-orang tersuci yang bertindak atas perintah wakil Kristus (Vicar of Christ).  Peter de Rosa mencatat: “How ever, the Inquisition was not only evil compared with the twentieth century, it was evil compared with the tenth and elevent when torture was outlawed and men and women were guaranteed a fair trial. It was evil compared with the age of Diocletian, for no one was then tortured and killed in the name of Jesus crucified.” 9  (Betapa pun, inquisisi tersebut bukan hanya jahat saat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-20, tetapi ini juga jahat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-10 dan ke-11, saat dimana penyiksaan tidak disahkan dan laki-laki serta wanita dijamin dengan pengadilan yang fair. Ini juga jahat dibandingkan dengan zaman Diocletian, dimana tidak seorang pun disiksa dan dibunuh atas nama Jesus yang tersalib). Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri mereka dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah.  Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa diantaranya gila. Pasukan Perancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut.10


Inquisisi dan hegemoni Gereja

Tahun 1887, Lord Acton menulis surat kepada Bishop Mandell Creighton. Isinya antara lain: “All power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely.” 11
Untuk memahami latar belakang persekusi yang sangat brutal terhadap kaum non-Kristen dan kelompok-kelompok heretics lainnya, perlu ditelaah sejarah dan latar belakang pembentukan institusi Inquisisi berkenaan dengan upaya Gereja di zaman Petengahan untuk membangun kekuatan hegemoniknya. Salah satu fenomena penting dalam sejarah Abad Pertengahan di Eropa adalah upaya Gereja Kristen untuk memperoleh dan memelihara kekuatan politiknya. Agama Kristen mulai mendapatkan peluang kebebasan – setelah beratus-tahun mengalami penindasan di bawah Imperium Romawi – dari Kaisar Konstantine, yang pada tahun 313 M mengeluarkan Edict of Milan. Dengan dikeluarkannya Edict of Theodosius pada tahun 392, agama Kristen memegang posisi sebagai agama negara (state-religion) dari Imperium  Romawi (Roman Empire). 12
Di akhir masa Kekaisaran Romawi, ketika institusi-institusi kenegaraan Romawi mengalami kehancuran,  institusi Gereja meraih kekuatan dan signifikansinya. Organisasi Gereja tumbuh menjadi lebih kuat dan keanggotannya semakin meningkat. Ketika itu, Agama Kristen (Christianity) merupakan prinsip pemersatu dan Gereja menjadi insitusi yang dominan dan sentral. Tidak ada satu pun aspek kehidupan di Abad Pertengahan yang tidak tersentuh oleh pengaruh Gereja. 13
            Ketika Kekaisaran Romawi runtuh pada tahun 476, Gereja tetap mempertahankan system administrasi Romawi dan memelihara elemen-elemen peradaban Yunani-Romawi (Greeco-Roman civilization).  Sebagai agen pemersatu, Gereja menyediakan jawaban bagi masyarakat tentang konsep kehidupan dan kematian. Dalam kehidupan social yang menuju kehancuran ketika itu, Gereja merupakan satu-satunya institusi yang memberikan alternatif rekonstruksi kehidupan.  Karena itu, kemudian pengaruh Gereja meluas begitu cepat di seluruh daratan Eropa, melibas berbagai pengaruh pandangan dan kepercayaan tradisional Eropa. Sepanjang daratan Eropa, dari Italia sampai Irlandia, sebuah masyarakat baru, berpusat pada Kekristenan, terbentuk.  Selama Abad Pertengahan, ketika kota-kota mengalami kehancuran, biara-biara menjelma menjadi pusat-pusat kebudayaan, dan tetap bertahan sampai munculnya kembali kota-kota di masa kemudian. Ketika itu, biara-biara juga menyediakan perawatan dan bantuan bagi orang-orang sakit dan miskin serta menyiapkan tempat bagi para pengembara. 14
            Awal-awal Abad Pertengahan merupakan periode pembentukan institusi Kepausan. Gereja Romawi (Roman Church) mulai teorganisasi dengan baik di zaman Paus Gregory I (590-604) – yang dikenal sebagai “the Great”. Dialah yang membangun awal mula birokrasi kepausan masa Pertengahan dan memperkuat kekuasaan kepausan (papacy’s power).  Gregory menggunakan metode administrasi Romawi untuk mengorganisasikan kekayaan Gereja di Italia, Sicilia, Sardinia, Gaul, dan wilayah lainnya. Ia meperkuat otoritas kepausan atas bishops and para pastur lainnya, mengirimkan misionaris ke Inggris untuk menaklukkan Anglo-Saxons, dan melakukan aliansi dengan Perancis. Paus Gregory juga melakukan aktivitas ekonomi dengan mengimpor gandum untuk memberi makan prajurit Romawi dan mengirimkan pasukan melawan kelompok heretic Lombards. Karena itu, Greorius I,  dari sudut tertentu, dipandang sebagai “penyusun kekuatan politik kepausan” (creator of the political  power of the popes). Akhirnya, pada abad ke-8, aliansi antara Paus dan Raja Pippin dari Perancis, berhasil mendirikan “Kerajaan Kepausan” (Papal States) dan mengatur dukungan Paus untuk memberikan legitimasi terhadap keluarga Pippin.  Tahun 754,  Pippin berjanji untuk mengembalikan teritori patrimoni dari St. Peter the territories. Sebagai balasan, Paus Stephen III menjanjikan akan memberikan hukuman pengucilan (excommunicated) terhadap raja-raja Perancis yang tidak berasal dari keluarga Pippin. Tahun 800, Paus Leo III, membuat keputusan besar dalam politik kepausan, dengan meletakkan mahkota kerajaan kepada anak Pippin, Charlemagne, yang diangkat sebagai “Emperor of the Romans”. Aksi Leo III ini sekaligus memindahkan gelar itu dari Kekaisaran Romawi Timur (Byzantine) ke Barat. 15
            Pengesahan Kekaisaran Romawi terhadap Charlemagne kemudian membentuk pola hubungan baru dalam bidang keagamaan di Eropa, dan kemudian juga memicu konflik politik-keagamaan di abad Pertengahan. Ini berkaitan dengan pemisahan tanggung jawab dan sumber legitimasi kekuasaan dari dua institusi tersebut: negara dan Gereja.  Contoh yang menarik terjadi pada kasus konflik antara Paus Gregory VII dan Raja Henry IV pada paruh abad ke-11. Konflik bermula ketika Gregory melarang keterlibatan Raja dalam pengangkatan pejabat gereja. Paus berargumen, bahwa konsep Gereja sebagai monarkhi berasal dari tradisi Imperium Romawi. Paus sendiri yang berhak mengangkat dan memberhentikan bishops, mengadakan suatu Sidang Umum dan mengeluarkan peraturan moral dan keagamaan. Jika Paus mengucilkan seorang penguasa, maka penguasa itu berarti telah berdiri di luar tubuh Kekristenan, dan karena itu ia tidak dapat menjadi penguasa di wilayah Kristen (Christendom). Raja Henry IV menolak klaim Paus tersebut, dan menyatakan bahwa kekuasaan raja juga datang langsung dari Tuhan. Menghadapi tentangan itu, Gregory menyerukan kepatuhan pasif terhadap Henry IV. Pada akhir pertarungan, Henry  IV takluk dan dipaksa menemui Gregory di Canossa pada 1077. Paus kemudian meringankan hukuman atas Henry tetapi tidak memulihkan kekuasaannya. Kasus ini menunjukkan keefektivan kekuasaan Paus atas pemerintah. Institusi kepausan, meskipun tanpa tentara, mampu melakukan pengucilan terhadap Raja yang sangat besar kekuasaannya di Eropa. 16
            Kemenangan Gregory tampaknya meningkatkan moral Gereja dalam menghadapi segala sesuatu yang dipandang sebagai “musuh”. Apalagi, sejumlah penguasa Kristen juga berhasil merebut kembali daerah-daerah yang sebelumnya direbut oleh Muslim. Tahun 1091 Count Roger berhasil merebut Sicily. Pada tahun 1085, Kristen Spanyol, dengan bantuan tentara Perancis berhasil mempertahankan Toledo dari serangan Muslim.Paus dan bishops kemudian lebih jauh melangkah untuk mendorong masyarakat membentuk milisi-milisi. Salah satunya adalah Bishop Toul yang kemudian menjadi Paus Leo IX tahun 1049. Dua bulan setelah penobatannya, Paus Leo IX membentuk milisi Romawi untuk memerangi bangsa Norman yang mengancam menyerbu wilayahnya. Pada tahun 1053, ia sendiri yang memimpin pasukannya dalam peperangan. Dua puluh tahun kemudian, Paus Gregory VII menyerukan semua rakyat Eropa untuk membentuk milisi yang dia namakan sebagai “the Knight of St. Peter”. 17
Upaya Gereja untuk menggalang kekuatan seluruh Eropa itu baru menampakkan hasil yang menakjubkan pada saat momentum Perang Salib, dimana pada 25 November 1095, Paus Urban II mengumumkan Perang Salib pertama. Dengan seruan untuk memberantas musuh-musuh Tuhan dan musuh Kristen, seruan Paus Urban II itu mendapat sambutan meriah. Karen Armstrong menggambarkan antusiasme kaum Kristen dalam memenuhi seruan Perang Salib ini, bahwa Perang Salib adalah aksi kooperatif pertama dari Eropa Baru sebagaimana Eropa merangkak meninggalkan Zaman Kegelapan. Perang ini mengajak semua lapisan masyarakat: paus, raja-raja, aristocrat, pendeta, tentara, dan petani. Masyarakat menjual apa yang mereka punya untuk melengkapi diri mereka bagi sebuah perjalanan yang panjang dan berbahaya, dan untuk sebagian besarnya, mereka tidak terpikir untuk memperoleh materi. Mereka dipenuhi dengan motif agama. Mereka menjahit tanda-tanda salib pada baju mereka, dan berbaris menuju tempat dimana Jesus meninggal untuk menyelamatkan manusia. Ini adalah satu perjalanan ketaatan dan sekaligus ini adalah satu perang pemusnahan. Jelaslah, bahwa Perang Salib merupakan jawaban atas kebutuhan yang mendalam pada masyarakat Kristen Eropa. 18
            Kemampuan Gereja dalam memobilisasi masyarakat Kristen Eropa dalam Perang Salib ini menjadi titik penting dalam melihat bagaimana sikap Gereja dalam memandang kaum non-Kristen atau heretics. Atas nama pemurnian agama, kelompok-kelompok heresy diburu dan ditumpas. Menurut Hukum kanonikal (Canon Law)  – yang merupakan hokum Gereja di abad pertengahan dan masih merupakan hokum di Gereja Katolik Roma -- “heresy” didefinisikan sebagai  satu kesalahan atas doktrin yang telah dinyatakan dengan jelas dalam kredo, dan telah mejadi bagian kepercayaan yang sah dari Gereja. (an error which has been clearly stated in the creed, and has become part of the defined faith of the church).  Maka, heresy bukan hanya dipandang  sebagai satu kesalahan, tetapi juga suatu kejahatan yang perlu dideteksi dan dihukum.. 19
               Persekusi terhadap heresy dapat ditelusuri dalam sejarah Kristen sejak era Konstantin, yang dengan Edict tahun 326 secara formal mengucilkan heretics. Pada tahun 380, segera setelah pembaptisannya, juga mengeluarkan Edict yang secara tegas memberikan sanksi kepada heretics. Tentang heretics, disebutkan dalam Edict Theodosius: “Besides the condemnation of divine justice, they must expect the heavy penalties  which our authority, guided by heavenly wisdom, shall think proper to inflict.” (Disamping kecaman dari keadilan Tuhan, mereka harus memperhitungkan hukuman berat, dimana kewenangan kita, dengan bimbingan kebijakan langit, akan berpikir tepat untuk menghukum). Kaisar kemudian mengeluarkan “the fifteen final penal laws” yang menghapuskan hak heretics untuk menjalankan agamanya dan memecat mereka dari semua urusan pemerintahan dan masyarakat, serta dalam beberapa kasus juga menerima hukuman mati. 20
               Joseph H. Lynch mencatat, bahwa heresy dipandang sebagai serangan serius terhadap Tuhan dan masyarakat -- semacam penyakit dalam masyarakat, yang jika dibiarkan akan mengancam keseluruhan masyarakat. Karena itu, Inquisition dibentuk untuk menghadapi heretics itu di daerah mana saja diizinkan penguasa. Mulanya, Inquisisi ditugasi memberantas heresy dengan sistematis. Biasanya para bishops lokal yang berhubungan dengan heretics. Tetapi, tugas ini gagal dijalankan di abad ke-12. 21 Karena dipandang sebagai musuh Tuhan dan masyarakat, maka heretics harus diberantas oleh satu panel inquisitors yang biasanya berasal dari Ordo Dominican. Karena kekejaman yang dilakukannya, mereka dijuluki sebagai “Domini canes”, atau “anjing Tuhan” (the hounds of the Lord).  22
               Tampaknya, semangat  Perang Salib turut mewarnai perburuan para heretics mulai awal-awal abad ke-13. Pada 1232, Paus Gregory IX membentuk Inquisisi untuk memusnahkan kaum heretics. Istilah “Crusade” yang semula digunakan untuk membasmi musuh Kristen di Palestina, kemudian untuk pertama kalinya digunakan untuk membasmi heretics dalam Kristen, yang dikenal sebagai Cathary. Peristiwa ini dikenal sebagai “Albigensian Crusade”. Malcolm Lambert mencatat tentang Albigensian Crusade: “In Languedoc, Innocent III’s crusade at first threw the Cathars into disarray and scattered their communities.” 23 Kelompok Cathary adalah penganut Catharism, satu kelompok heresy radikal di Zaman Pertengahan. Cathary percaya bahwa karena daging adalah jahat, maka Kristus tidak mungkin menjelma dalam tubuh manusia. Karena itu, Kristus tidaklah disalib dan dibangkitkan. Dalam ajaran Cathary, Jesus bukanlah Tuhan, tapi Malaikat. Untuk memperhambakan manusia, tuhan yang jahat menciptakan gereja, yang mempertontonkan “sihirnya” dengan mengejar kekuasaan dan kekayaan. Ketika kaum ini tidak dapat disadarkan dengan persuasif, Paus Innocent III menyeukan kepada raja-raja untuk memusnahkan mereka dengan senjata. Di Albigensian Crusade ini, ribuan orang dibantai. 24
            Sikap dan tindakan Institusi Gereja untuk membentuk Inquisisi dalam pembasmian heretics dan berbagai hal yang dianggap mengancam Kristen dan Gereja dengan alasan pemurnian agama, pada dasarnya juga merupakan satu bentuk penjagaan hegemoni Gereja. Sebab, Gereja ketika itu, disamping merupakan institusi keagamaan juga mengakumulasikan berbagai jenis power. Hegemoni, secara tradisional, diartikan sebagai kekuasaan atau pengaruh satu negara terhadap sejumlah negara lainnya. Dalam teori budaya Marxis kontemporer yang dkembangkan oleh Gramsci, hegemoni merujuk pada monopoli budaya yang diduga dilakukan oleh kelas dominan.”  25 Barry K. Gills mendefinisikan hegemoni sebagai struktur hirarkis dari akumulasi antar kelas atau negara, melalui satu kekerasan atau paksaan. 26 Dalam struktur hegemonik, ada dua elemen,  yaitu hegemon (dalam posisi inti) dan perifer. Hegemon memiliki privilej sebagai posisi inti atas perifer. Konsep hegemoni memiliki implikasi akumulasi dan konsentrasi.  27
               Sebagaimana disebutkan, kekuatan terpenting di Zaman Pertengahan adalah Gereja. Sebagai sentral kekuatan, Gereja membutuhkan penjagaan atas hegemoninya untuk memelihara kepentingan-kepentingannya. Maka, segala sesuatu yang dipersepsikan sebagai ancaman, haruslah dihancurkan.  Kadangkala, Gereja mencoba menyatukan masyarakat Kristen dengan menempatkan sesuatu sebagai “common enemy”, sebagaimana yang terjadi dalam Crusade, ketika Paus Urban II mengambarkan Muslim sebagai musuh Kristen. Institusi Inquisisi juga dibentuk dalam kerangka membasmi musuh-musuh Gereja. Apa yang dilakukan Gereja di Zaman Pertengahan dalam menghimpun dan mengkonsentrasikan kekuasaan (power) dapatlah dikatakan sebagai suatu bentuk pemeliharaan hegemoni. Paus sendiri ketika itu menempatkan dirinya sebagai pusat dan sumber kekuasaan bagi seluruh wilayah Kristen. Dalam hal kepercayaan Gereja,               bahwa bumi adalah pusat tata surya, Gereja pada abad ke-17 dan juga Inquisitor-General-nya, secara terbuka menganut kepercayaan bahwa seluruh alam semesta bergerak mengelilingi Mahkota Paus. 28  Robert N. Bellah mencatat, bahwa “The Pope in the early Middle Ages comes close to claiming to be the head of an international super state to which all secular political authorities had to bow.” 29 (Paus, di Abad-abad Pertengahan, hampir mengklaim sebagai ketua negara-super internasional, dimana semua penguasa politik sekuler harus tunduk padanya). Di Abad-abad  Pertengahan, Gereja memang merupakan kekuatan dominan dalam politik. Disamping memegang kekuatan agama, Gereja juga mengendalikan kekuatan besar dalam ekonomi. Di abad ke-10,  Gereja merupakan pemilik lahan terbesar di Eropa Barat. Ketika itu Gereja memiliki hampir sepertiga  wilayah Itali dan sejumlah besar kekayaan di wilayah lain. 30
 
Persekusi Yahudi                        

Inquisisi Gereja telah memakan korban yang sangat banyak dari kalangan kaum non-Kristen, khususnya Yahudi dan Muslim. Karena merupakan insitusi resmi dari ‘Wakil Tuhan’, maka kesalahan Inquisisi dianggap sebagai kesalahan resmi agama. Karena itu, pada Konsili Vatikan II (1962-1965),  Gereja melakukan perubahan sikap yang besar terhadap agama lain, khususnya Yahudi. Padahal, selama ratusan tahun, Yahudi terus-menerus menjadi korban kekejaman penguasa Kristen Eropa.
Sejumlah Paus, misalnya, dikenal sangat anti-Yahudi. Pada tanggal 17 Juli 1555, hanya dua bulan setelah pengangkatannya, Paus Paulus IV, mengeluarkan dokumen (Papal Bull) yang dikenal dengan nama Cum nimis absurdum. Di sini Paus menekankan, bahwa para pembunuh Kristus, yaitu kaum Yahudi, pada hakekatnya adalah budak dan seharusnya diperlakukan sebagai budak. Yahudi kemudian dipaksa tinggal dalam ‘ghetto’. Setiap ghetto hanya memiliki satu pintu masuk. Yahudi dipaksa menjual semua miliknya kepada kaum Kristen dengan harga sangat murah; maksimal 20 persen dari harga yang seharusnya. Di tiap kota hanya boleh ada satu sinagog. Di Roma, tujuh dari delapan sinagog dihancurkan. Di Campagna, 17 dari 18 sinagog dihancurkan. Yahudi juga tidak boleh memiliki Kitab Suci. Saat menjadi kardinal, Paus Paulus IV membakar semua Kitab Yahudi, termasuk Talmud. Paus Paulus IV meninggal tahun 1559. Tetapi cum nimis absurdum tetap bertahan sampai tiga abad. 31
Sikap tokoh-tokoh Gereja semacam itu terbukti sangat berpengaruh terhadap nasib Yahudi di wilayah Kristen Eropa.  Di Spanyol, misalnya, Yahudi sudah ada di wilayah ini, sekitar tahun 300 M. Raja Aleric II (485-507), diilhami oleh Code of Theodosius,  memberikan batasan yang ketat terhadap Yahudi. Nasib Yahudi Spanyol semakin terjepit, menyusul konversi Raja Recarred I (586-601) menjadi Katolik. Sang Raja melakukan konversi itu pada The Third Council of Toledo (589), dan kemudian menjadikan Katolik sebagai  agama negara. The Council of Toledo itu sendiri membuat sejumlah keputusan: (1) larangan perkawinan antara pemeluk Yahudi dengan pemeluk Kristen, (2) keturunan dari pasangan itu harus dibaptis dengan paksa, (3) budak-budak Kristen tidak boleh dimiliki Yahudi (4) Yahudi harus dikeluarkan dari semua kantor publik, (5) Yahudi dilarang membaca Mazmur secara terbuka saat upacara kematian. 32
Dalam periode   612-620, banyak kasus tejadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Ribuan Yahudi melarikan diri ke Perancis dan Afrika. Pada 621-631, di bawah pemerintahan Swinthila, perlakuan Yahudi agak lebih lunak. Pelarian Yahudi kembali ke tempat tinggalnya semula dan mereka yang dibaptis secara paksa kembali lagi ke agama Yahudi. Tetapi, Swinthila ditumbangkan oleh Sisinad (631-636), yang melanjutkan praktik pembaptisan paksa. Pada masa pemerintahan Chintila (636-640), dibuatlah keputusan dalam The Six Council of Toledo (638), bahwa selain orang Katolik dilarang tingal di wilayahnya. Euric (680-687) membuat keputusan: seluruh Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan di bawa pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Raja Egica (687-701) membuat keputusan: semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak untuk selamanya, harta benda mereka disita, dan mereka diusir dari rumah-rumah mereka, sehingga mereka tersebar ke berbagai profinsi. Upacara keagamaan Yahudi dilarang keras. Lebih dari itu, anak-anak Yahudi, umur 7 tahun keatas diambil paksa dari orang tuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. 33
Sampai abad ke-15, pembantaian Yahudi (massacre) itu terus terjadi di Spanyol. Di Rusia,  penindasan dan pembantaian Yahudi dikenal sebagai ‘pogroms’ (mob violence) dan masih berlangsung sampai abad ke-20. Sejumlah pejabat pemerintah  Rusia ikut memobilisasi massa untuk mengusir Yahudi. Sebagai contoh, antara tahun 1903-1906, pogroms terjadi di 690 kota dan desa, sebagian besar terjadi di Ukraina. 34 Di berbagai wilayah lain di Eropa, persekusi terhadap Yahudi terjadi di mana-mana. Selama ratusan tahun, para pemimpin politik dan agama di Eropa Barat tidak  segan-segan untuk menghapuskan atau menghancurkan  komunitas-komunitas Yahudi di Eropa. Persekusi dan pembantaian Yahudi itu beberapa diantaranya dilakukan dengan ancaman dan intimidasi untuk meninggalkan agama Yahudi dan memeluk Kristen. Jika mereka menolak, maka hukuman mati sudah menanti mereka.
Di Perancis, misalnya, Louis IX (1226-1270), memerintahkan pengusiran semua orang Yahudi dari kerajaannya, sesaat setelah Louis berangkat menuju medan Perang Salib. Perintah itu memang tidak dijalankan dengan sempurna. Banyak orang Yahudi yang meninggalkan Perancis kemudian kembali lagi. Tetapi, Philip the Fair (1285-1314) kemudian memerintahkan semua Yahudi Perancis untuk ditangkap. Kemudian, Raja Charles IV, kembali mengusir Yahudi Perancis pada tahun 1322. Josephine Bacon mencatat pengusiran dan pembantaian orang-orang Yahudi di Perancis dalam kurun tahun 800-1500. Tahun 1420, komunitas Yahudi dimusnahkan dari Toulouse. Pada tahun yang sama, Yahudi juga diusir dari Kota Lyon. Tahun 1321, 160 Yahudi dikubur dalam satu lobang di Kota Chinon. Tahun 1394, seluruh Yahudi diusir dari Kota Sens. Pada tahun 1495, orang-orang Yahudi diusir dari Lithuania. Padahal di negara ini, orang-orang Yahudi itu mengungsi dari persekusi kaum Kristen Barat, karena mereka tidak menerima agama Kristen. Di Rusia, sebagai akibat dari kebencian yang disebarkan oleh gereja Kristen Ortodoks Rusia, kaum Yahudi dikucilkan dan diusir dari Rusia dalam kurun waktu mulai abad ke-15 sampai dengan tahun 1722. Ketika itu, secara umum, bisa dikatakan, tanah Kristen Eropa bukanlah tempat yang aman bagi kaum Yahudi. 35
Abad ke-15 menyaksikan pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 saja, dilaporkan 13.000 orang Yahudi dieksekusi atas perintah Komandan Inqusisi di Spanyol, Fray Thomas de Torquemada. Selama puluhan tahun berikutnya, ribuan Yahudi mengalami penyiksaan dan pembunuhan. Jatuhnya Granada, pemerintahan Muslim terakhir di Spanyol, pada 20 Januari 1492, telah mengakhiri pemerintahan Muslim selama 781 tahun di Spanyol. Kejatuhan Granada ke tangan Kristen ini dirayakan dengan upacara keagamaan di seluruh Eropa. Kemudian, Paus mengundang seluruh bangsa Kristen untuk mengirimkan delegasi ke Roma, guna mendiskusikan rencana ‘crusade’ terhadap Turki Uthmani. Tahun 1494, pasangan Ferdinand dan Isabella diberi gelar ‘the Catholic Kings’ oleh Paus Alexander VI. Pasangan itu sebenarnya telah banyak melakukan pembantaian terhadap Yahudi dan Muslim sejak dibentuknya Inquisisi di Castile dengan keputusan Paus tahun 1478. Puncaknya adalah tahun 1492, saat mereka memberikan pilihan kepada Yahudi: pergi dari Spanyol atau dibaptis. Setelah jatuh ke tangan Kristen, kaum Muslim Granada (yang oleh diberi sebutan Moors oleh kaum Kristen Spanyol) masih diberi kebebasan menjalankan beberapa ritual dan tradisi agama mereka. Archbishop yang diangkat di Granada juga seorang yang memiliki interes terhadap kebudayaan Arab. Ia diharapkan melakukan konversi kaum Muslim ke Kristen secara gradual. Tapi, Isabella tidak sabar, dan memaksakan dilakukannya pembaptisan massal. Akhirnya, kaum Muslim melakukan perlawanan pada tahun 1499, tetapi berhasil ditumpas pasukan Kristen. Setelah itu, sebagaimana kaum Yahudi, mereka juga diberi pilihan: meninggalkan Spanyol  atau dibaptis. Jika menolak, kematian sudah menunggu. Lockyer mencatat: “The choice was merely theoretical for the majority of Moors, since they were too rooted in Granada, and usually too poor  to contemplate exile. They became reluctant Christians, and were thereby brought within the competence of the Inquisition.” (Pilihan itu semata-mata hanyalah besifat teori untuk sebagian besar orang Muslim, sebab mereka terlalu berakar di Granada, dan biasanya tak terbayangkan untuk hidup di pembuangan. Mereka kemudian menjadi Kristen setengah hati, dan dengan demikian masuk kategori proses Inquisisi). Jatuhnya Granada, juga sekaligus merupakan bencana bagi kaum Yahudi di Spanyol. Hanya dalam beberapa bulan saja, antara akhir April sampai 2 Agustus 1492, sekitar 150.000 kaum Yahudi diusir dari Spanyol. Sebagian besar mereka kemudian mengungsi ke wilayah Turki Uthmani yang menyediakan tempat yang aman bagi Yahudi. Ada yang mencatat jumlah Yahudi yang terusir dari Spanyol tahun 1492, sebanyak 160.000. Dari jumlah itu, 90.000 mengungsi ke Turki/Uthmani, 25.000 ke Belanda, 20.000 ke Maroko, 10.000 ke Perancis, 10.000 ke Itali, dan 5.000 ke Amerika. Yang mati dalam perjalanan diperkirakan     20.000 orang. Sedangkan yang dibaptis dan tetap di Spanyol sebanyak 50.000. Selain bermotif keagamaan, pengusiran kaum Yahudi dan Muslim dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella juga memberikan banyak kekayaan kepada para penguasa Kristen Spanyol. Dengan pengusiran itu, mereka berhasil menguasai seluruh kekayaan Yahudi dan Muslim dan menjual mereka sebagai budak. Bahkan, diantara mereka yang diusir itu, mereka dirampok di tengah jalan dan sering dibedah perutnya untuk mencari emas yang diduga disembunyikan dalam perut kaum yang terusir itu.  Masa kekuasaan Ferdinand -- The King of Aragon --  dan Isabella -- the Queen of Castile – dicatat sebagai puncak persekusi kaum Yahudi di Spanyol. Keduanya dikenal sebagai “the Catholic Kings”, yang dipuji sebagai pemersatu Spanyol. Ironisnya, perkawinan keduanya justru diatur oleh seorang Yahudi bernama Abraham  Senior. 36

Penutup
         
          Jadi, kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Gereja – sebagai penguasa agama dan politik sekaligus – melalui Inquisisi, kemudian menimbulkan trauma dan berujung pada ‘balas dendam’ terhadap insitusi Gereja  di Barat. Struktur Gereja yang memposisikan diri sebagai wakil Tuhan yang ‘infallible’ telah menyebabkan masyarakat Barat kemudian berpikiran praktis: jika agama memasuki wilayah politik maka negara akan rusak dan masyarakat sengsara. Dari sinilah lahir gagasan untuk memisahkan agama dengan politik. Jadi, sikap sekular dalam politik ini sebenarnya merupakan pengalaman sejarah Barat. Jika dikaji dengan cermat perjalanan sejarah Islam, akan tampak dengan jelas, adanya fenomena dan kondisi yang berbeda. Sebab itu, adalah sangat terburu-buru dan gegabah, jika ada kalangan ilmuwan Muslim yang secara gegabah menjiplak konsep sekularisasi yang berasal dari pengalaman sejarah Barat untuk diterapkan dalam masyarakat Muslim.  
            Pengalaman sejarah dan trauma Barat terhadap hegemoni Gereja Kristen mengharuskan dilakukannya sekularisasi di Barat. Tetapi, Islam tidak mengalami hal semacam itu. Islam tidak mengenal institusi Inquisisi. Dalam hal ini, Bernard Lewis cukup jeli dengan menyatakan: “The reason why Muslims developed no secularist movement of their own, and reacted sharply against attempts to introduce one from abroad, will thus be clear from the contrasts between Christian and Muslim History and experience. From the beginning, Christians were taught both by precept and practice to distinguish between God and Caesar and between the different duties owed to each of the two. Muslims received no such insttruction.” 37
            Juga, seperti disebutkan sebelumnya, dalam bukunya, Christianity in World History, Arend Theodor van Leeuwen, mencatat, bahwa penyebaran Kristen di Eropa membawa pesan sekularisasi. Kata Leeuwen, “Christianization and secularization are involved together in a dialecticall relation.”  Maka, menurutnya, persentuhan antara kultur sekular Barat dengan kultur tradisional religius  di Timur Tengah dan Asia, adalah bermulanya babak baru dalam sejarah sekularisasi. Sebab, kultur sekular adalah hadiah Kristen kepada dunia.(Christianity’s gift to the world). 38
                Kultur sekular yang sangat dipengaruhi oleh tradisi intoleransi dan persekusi terhadap agama lain di Barat, sama sekali tidak ada dalam tradisi Islam. Karen Armstrong mencatat tentang hal ini: There was no tradition of religious persecution in the Islamic empire. 39


 (***)
           



1 Webster’s New World Dictionary of The American Language, 1986, mendefinisikan heresy (dari bahasa Latin: haerasi, dan bahasa Yunani: hairesis), sebagai  (1) a religious belief opposed to the orthodox doctrine of a church, (2) the rejection of a belief that is a part of church dogma, (3) any opinion (in philosophy, politics, etc.) opposed to official or established views of doctrines.). Siapa pun yang dicap sebagai heretic, maka itu berarti “hukuman mati” baginya. Ia dapat ditangkap dan dibawa ke mahkamah Inquisisi, yang memiliki wewenang untuk menyelidiki, menangkap, menahan, menyiksa, atau bahkan membunuh kaum heretics.

2 The New Encyclopaedia Britanica. (Chicago: Encyclopaedia Britanica Inc., 1985), 328.
3 Martin Gilbert (ed), Atlas of The Jewish People, (London: Andre Deutsch Limited, 1990),
61-64.

4 Martin Gilbert (ed), Atlas of Jewish Civilization, 64-65.

5  Philip J. Adler menggambarkan bagaimana Barat memandang dan memperlakukan wanita. Sampai abad ke-17, di Eropa, wanita masih dianggap sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia. (Mungkin ini terpengaruh oleh konsep Kristen tentang Eva yang digoda oleh Setan sehingga menjerumuskan Adam). Sejak awal penciptaannya, wanita memang sudah dianggap tidak sempurna. Mengutip seorang penulis Jerman abad ke-17, Adler menulis: It is a fact that women has only a weaker faith (In God). Adalah fakta bahwa wanita itu lemah dalam kepercayaannya kepada Tuhan. Dan itu, kata mereka, sesuai dengan konsep etimologis mereka tentang wanita, yang dalam bahasa mereka disebut female berasal dari bahasa Yunani ‘femina’. Kata ‘femina’ berasal dari kata ‘fe’ dan ‘minus’. ‘Fe’ artinya fides, faith (kepercayaan atau iman). Sedangkan ‘mina’ berasal dari kata ‘minus’, artinya kurang. Jadi ‘femina’ artinya seseorang yang imannya kurang (one with less faith). Karena itu, kata penulis Jerman abad ke-17 itu: Therefore, the female is evil by nature. (Karena itu, wanita memang secara alami merupakan makhluk jahat). Pandangan seperti itu, memiliki konsekuensi serius. Pada saat itu, wanita banyak menjadi korban pembantaian, karena dianggap sebagai jelmaan setan. Banyak yang dibantai karena mereka dianggap sebagai tukang sihir. Adler mengungkap data, pada periode 1572-1629, di dekat Kota Thann di Jerman, sebanyak 152 orang yang dituduh tukang sihir dibantai, dengan cara digantung atau dibakar hidup-hidup. Dari jumlah itu, hanya 8 yang laki-laki. Kadangkala, pada satu saat, 8 atau 9 wanita dibunuh. Sebanyak 306 orang, hampir semuanya wanita, dibantai hanya dalam tempo 6 tahun di desa-desa dekat kota Trier. Di dua desa, hanya ada dua wanita saja yang tersisa. (Lihat, Philip J. Adler, World Civilizations,  289).

6 Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991), 456.

7 Richard McBrien, Catholicism, (London: Geoffrey Chapman, 1994),  624.

8 Henry Charles Lea,  A History  of the Inquisition of Spain, Vol. 1:35, Vol. 3:183-185;  Karen Armstrong, Holy War…, 460).

9 Peter de Rosa, Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy, (London: Bantam Press, 1991), 246-247.

10 Ibid, 239.
11 Ibid, 11.
12 Marvin Perry, Western Civilization,  (Boston: Houghton Mifflin Company, 1997), 128-129.

13 Joseph H. Lynch, The Medieval Church: A Brief History, (London: Longman, 1992), back cover description; Marvin Perry, Western Civilization, 149.
14 Marvin Perry, Western Civilization,  149-150.
15 Eric O. Hanson, The Catholic Church in World Politics, (Princeton: Princeton  University Press, 1987),  23-24; Marvin Perry,  Western Civilization,  151; Luigi Sturzo, Church and State, (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1962),  52-54.

16 Eric O. Hanson,  The Catholic Church,  24-26.

17 Karen Armstrong, Holy War…, 62-63.

18 Karen Armstrong, Holy War…,.  3-4.
19 The Encyclopaedia Britannica, (London: The Encyclopaedia Britannica Company Ltd., 1926), 360.
20 The Encyclopaedia Britannica , 361.

21 Joseph H. Lynch, The Medieval Church,  226-227.
22 Karen Armstrong, Holy War…,  456.

23 Malcolm Lambert, Medieval Heresy, (Oxford-Massachusetts: Blackwell Publishers Inc.,  1992), 133.
24 Marvin Perry,  Western Civilization, 175;  The Encyclopedia Britannica,  361.   

25 Arthur Marwick, The Nature of History, (Houndmills: The MacMillan Press Ltd, 1989),  398.

26 Barry K. Gills, “Capital and Power in the Process of World History”, dalam  Stephen K. Sanderson (ed),  Civilizations and World Systems, (California: Altamira Press, 1995), 153.
27 Andre Gunder Frank, “The Modern World System Revisited”, dalam Stephen K. Anderson, Civilization and World Systems,  174.

28 Robert Lomas, The Invisible College, (London: Headline Book Publishing, 2002),   20.
29 Robert N. Bellah and Philip E. Hammoud, Varieties of Civil Religion, (New York: Harper & Row Publishers,  1980), hal. xi.
30 Marvin Perry, Western Civilization, hal. 169.
31 Peter de Rosa, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, 266-269.

32 Max L. Margolis dan Alexander Marx, A History of the Jewish People,  (New York: Atheneum, 1969), 304-305.

33 Ibid, 305-306.
34 Marvin Perry, Western Civilization, 447.
35 Stanford J. Shaw, The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic, (Houndmills: MacMillan Academic and Professional Ltd, 1991),  7-9; Martin Gilbert (ed), Atlas of Jewish Civilization, 67.

36 Stanford J. Shaw, The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic,  hal. 13-14;  Henry Charles Lea, A History  of the Inquisition of Spain, (New York: AMS Press Inc., 1988), Vol. 1, hal. 36, 140; Martin Gilbert (ed) Atlas of Jewish Civilization, hal. 59; Halil Inalcik, From Empire to Republic: Essays on Ottoman and Turkish Social History, (Istanbul: The ISIS Press, 1995), 106. Roger Lockyer, Habsburg and Bourbon Europe 1470-1720, (Essex: Longman, 1994), 199-201. 

37 Bernard Lewis, What Went Wrong?: Western Impact and Middle Eastern Response, (London: Phoenix, 2002), 115. 

38 Pendapat Leeuwen dikutip dari buku Mark Juergensmeyer, The New Cold War?, (London: University of California Press, 1993), 16-17.
39 Karen Armstrong, Holy War…, 44.

Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Terbesar dari Konya-Persia

          Dua orang bertengkar sengit di suatu jalan di Konya. Mereka saling memaki, “O, laknat, jika kau mengucapkan sepatah makian terh...