Kamis, 25 April 2013

Metodologi Orientalis Dalam Studi al-Qur'an


by; Adnin Armas 

          Kesimpulan Edward Said bahwa para orientalis mengkaji Islam menurut pengalaman Barat adalah benar adanya. Sebab ketika mengkaji al-Qur’Én, para orientalis itu menggunakan kritik Bibel (biblical criticism). Namun dibalik penggunaan metodologi Bibel yang diklaim sebagai metode ilmiah, mereka ingin menunjukkan bahwa al-Qur’Én sebenarnya telah mengalami berbagai penyimpangan (taÍrÊf). Dengan begitu mereka dapat mendobrak keimanan kaum Muslimin yang selama ini masih saja meyakini bahwa al-Qur’Én adalah firman Allah. Tulisan di bawah ini akan menunjukkan bahwa adopsi metodologi Bibel tidaklah tepat untuk diaplikasikan kepada al-Qur’Én. Sebab, metode biblical criticism muncul disebabkan problematika Bibel yang sangat kompleks. Sejarah al-Qur’Én tidak perrnah memiliki pengalaman sebagaimana yang dialami Bibel.

Problematika Perjanjian Lama[1]
          Perjanjian Lama (PL) adalah hasil dari proses kompilasi yang sangat panjang.Teks PL dipercayai telah ditulis dari zaman Musa (1400 tahun sebelum Masehi) ke zaman Malachi (400 tahun sebelum Masehi). Jadi, PL ditulis oleh individu-individu yang hidup dalam zaman yang berlainan. Ini tentunya menimbulkan sejumlah persoalan. Siapa sebenarnya yang mengarang dan menyusun PL? Bagaimana sebenarnya PL itu dikarang dan disusun? Bagaimana perkembangan sejarah PL sehingga menghasilkan teks PL seperti yang ada sekarang ini? Apa sebenarnya bahasa asal PL?
Setelah ditemukannya mesin cetak, maka teks PL dicetak untuk pertama kali pada tahun 1488 M. di Soncino, Italia. Sebelumnya, hampir selama 3000 tahun, yaitu sejak 1400 tahun sebelum Masehi sehingga tahun 1488 M, teks PL disalin dan diperbanyak dengan tulisan tangan.[2] Penyalinan dengan tangan sangat rentan dengan kesalahan seperti haplography, dittography dan homoioteleuton.[3] Selain itu, isi, struktur kalimat, style dan versi teks PL menjadi berbeda yang mustahil untuk diselesaikan. Sebabnya, bukan saja manuskrip naskah asal dan asli sudah tidak ada lagi, namun manuskrip yang dijadikan rujukan pun bukan berasal dari generasi-generasi awal. Sebelum ditemukannya naskah-naskah di Qumran (Dead Sea scrolls) pada tahun 1947, manuskrip Ibrani  yang paling tua adalah pada tahun 895 M. mengenai keseluruhan Yesaya berasal dari salinan Ben Asher.[4] 
Umumnya, para sarjana Yahudi-Kristen berpendapat PL pada awalnya dan kebanyakannya ditulis dalam bahasa Ibrani. Hanya sebagian kecil saja yang ditulis dalam bahasa Aram seperti dalam Kejadian 31:47; Yeremia 10:11, Ezra 4:8-6;18; 7:12-26 dan Daniel 2:4-7:28.[5]
Bagaimanapun, bahasa Ibrani yang dimaksud sebagai bahasa asal PL sudah mengalami perkembangan-perkembangan yang berbeda dengan tulisan persegi (square script) yang tercantum dalam manuskrip-manuskrip PL. Menurut Israil Wilfinson, seorang sarjana Yahudi terkemuka dalam studi PL, bahasa yang digunakan oleh orang Yahudi sebelum pengasingan (pre-exilic language) adalah dialek Kanaan. Orang-orang Ibrani menggunakan dialek Kanaan sebelum menetap di Palestina. Dialek tersebut menjadi bahasa mereka setelah menetap disana.[6]
Selain itu, istilah bahasa Ibrani tidak pernah digunakan dalam PL. Dalam Yesaya 36:11 disebutkan: Lalu berkatalah Elyakim, Sebna dan Yoah kepada juru minuman agung: “Silahkan berbicara dalam bahasa Aram kepada hamba-hambamu ini, sebab kami mengerti; tetapi jangalah berbicara dengan kami dalam bahasa Yehuda sambil didengar oleh rakyat yang ada di atas tembok.”[7] Begitu juga dalam Yesaya 36:13 disebutkan: “Kemudian berdirilah juru minuman agung dan berserulah ia dengan suara yang nyaring dalam bahasa Yehuda. Ia berkata: ‘Dengarlah perkataan raja agung, raja Asyur![8] Dalam Yesaya 19:18 disebutkan: “Pada waktu itu akan ada lima kota di tanah Mesir yang berbicara bahasa Kanaan dan yang bersumpah demi TUHAN semesta alam. Satu diantaranya akan disebutkan Ir-Heres.”[9]
 Seandainya saat itu bahasa Ibrani telah digunakan, tentunya PL akan memberikan informasi mengenai bahasa tersebut, bukan menggunakan kata-kata “bahasa orang Yahudi” atau “bahasa Kanaan.” Jadi, bisa disimpulkan ketika bangsa Israel berpecah menjadi Kerajaan Israel dan Yehuda, mereka tidak memiliki bahasa yang khusus.[10]
Selain itu, pada masa pengasingan (exilic period), tulisan Yahudi berasal dari bahasa Kanaan. Saat itu, bahasa Aram yang menjadi bahasa dominan di kawasan Timur Dekat dan orang Yahudi mengadopsi bahasa tersebut dan juga tulisannya yang dikenal dengan Asyur. Jadi, ketika PL dalam bahasa Ibrani yang ditulis dengan menggunakan square script (tulisan persegi), maka bentuk asal dari square script adalah tulisan Asyur. Disebabkan tulisan Asyur yang merupakan bentuk Aram dari tulisan Phonesia telah digunakan sejak abad ke-8 S. M., maka dalam manuskrip-manuskrip awal teks PL, tulisan Asyur terlebih dahulu digunakan. Square script baru dianggap secara formal sebagai tulisan Ibrani setelah munculnya tulisan-tulisan Bin Sira dan Yosephus pada abad pertama Masehi dalam Misnah serta Talmud dan itu semua merupakan perkembangan-perkembangan yang terjadi sangat belakangan. Oleh sebab itu, pada asalnya salinan PL mengalami proses. Dari tulisan Kanaan berubah menjadi Aramaik (Asyur), dan akhirnya berubah lagi menjadi persegi yang kemudiannya dianggap sebagai tulisan Ibrani. Kesimpulannya, sebelum kepulangan mereka dari pengasingan Babilonia pada tahun 538 S. M., orang Yahudi tidak memiliki alat komunikasi tertulis khas milik mereka sendiri.[11]
Selain disalin dengan tulisan persegi (square script), Taurat juga telah disalin oleh orang-orang Samaria (Samaritan Torah) dengan tulisan Ibrani kuno-Phonesia (Phonecian-paleo-Hebrew). Tulisan orang-orang Samaria tersebut berbeda dengan tulisan persegi (square script) orang-orang Yahudi. Selain itu, berbeda dengan orang-orang Yahudi, kaum Samaria meyakini hanya Taurat yang dianggap otentik. Mereka menolak Nevi’im (Nabi-Nabi) dan Kethubim sebagai bagian dari “kitab suci.”[12] 
Selain itu, Bibel Ibrani (Biblia Hebraica) juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Aramaik (Targum), Yunani kuno (Septuagint),[13] Syiriak (Peshitta)[14] dan Latin (Vulgata).[15] Konsekwensinya, distorsi terhadap naskah terjadi. Penerjemahan Biblia Hebraica kepada Septuagint, misalnya, telah merubah isi, susunan, makna, gaya bahasa, struktur kalimat teks PL. Akibatnya, orang-orang Yahudi, Katolik Roma dan Ortodoks serta Protestant memiliki sikap yang berbeda terhadap naskah PL.
Bagi orang-orang Yahudi, PL diklasifikasikan kepada 24 buku. Bagi penganut Protestant PL diklasifikasikan kepada 39 buku. Sedangkan bagi penganut Katolik Roma dan Ortodoks, PL diklasifikasikan kepada 46 buku.[16]
Jadi, buku-buku yang dalam Katolik Roma (Roman Catholic) ada, tapi dalam Protestant tidak ada, sebanyak 7 buku yaitu Tobit, Judith, Hikmah Salomo, Ecclesiasticus (Wisdom of Ben Sirach), Baruch, I Maccabees dan II Maccabees. Perbedaan tambahan 7 buku tersebut disebabkan ketika orang-orang Yahudi menerjemahkan ke bahasa Yunani kuno (Septuagint), susunannya menjadi 46 bagian. Susunannya menjadi berbeda dengan yang biasanya diterima kalangan Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani dan Aramik di Palestina. Gereja yang termasuk pertama kali mengkodifikasi dan mengkanonisasi 46 buku tersebut adalah Dewan Gereja Katolik di Afrika Utara pada abad ke-empat: di Hippo pada tahun 393, dan di Carthage pada tahun 397 dan 417 M termasuk yang.[17] Sebaliknya, kalangan Protestant menganggap 7 bagian tambahan yang ada pada kitab Perjanjian Lama Katolik sebagai apocrypha.         Selain itu, PL menjadi “textus receptus” ketika sekelompok sarjana Yahudi pada 8 hingga abad ke-11 para Masoretes (penafsir) meletakkan tanda-tanda vokal ke dalam teks dan “menetapkan” (fix) kata-kata dalam bentuk definitif. Teks standart Perjanjian Lama disebut dengan nama Masoretic text.[18]
Bagaimanapun, teks tetap tersebut lebih banyak menimbulkan permasalahan dibanding menyelesaikan persoalan. Salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan menggunakan berbagai terjemahan Biblia Hebraica seperti dalam bahasa Yunani kuno (Septuagint), Syiriak (Peshitta), Latin (Vulgata) dan Aramaik (Targum).[19]

Studi Kritis PL 
            Selama berabad-abad kalangan Yahudi dan Katolik ortodoks meyakini Musa sebagai pengarang keseluruhan Taurat. Bagaimanapun, saat ini, keyakinan tersebut ditolah oleh mayoritas teolog Yahudi-Kristen. Salah seorang yang menyatakan bahwa Musa bukanlah pengarang keseluruhan isi Taurat adalah Jerome (±342-420). Ia menerjemahkan Septuagint ke dalam bahasa Latin (Vulgata) dan terjemahannya dianggap textus receptus bagi kalangan Kristen. Menurut Jerome, terdapat sejumlah paragraph dalam Taurat yang bukan karangan Musa. Namun, paragraf-paragraf tersebut telah dimasukkan oleh penulis lain. Menurutnya, “until this day” dalam Kejadian 35:4 (LXX) dan Ulangan (34:5-6) menunjukkan paragraph-paragraf tersebut ditulis setelah periode Musa.[20] 
Pada abad kedua belas, Abraham ibn Ezra (1092-1167), seorang sarjana Yahudi berpendapat sejumlah paragraph di dalam Taurat yang menunjukkan bahwa Musa bukanlah pengarang Taurat. [21] Pada tahun 1520, Andreas Bodenstein, yang lebih dikenal dengan Karlstadt dalam karyanya menulis buku kecil mengenai Kanonisasi Kitab Suci (De canonicis Scripturis libellus). Di dalam karya tersebut, Karlstadt menegaskan Musa bukanlah pengarang keseluruhan isi Taurat.[22]
Pada zaman modern, kritik terhadap pendapat Musa sebagai pengarang keseluruhan isi Taurat semakin bergema. Thomas Hobbes (1588-1679), seorang filosof dari Inggris dalam karyanya Leviathan, yang diterbitkan pada tahun 1651, misalnya menyatakan Kejadian 12:6 dan Bilangan 21:14, bukanlah karangan Musa.[23]  Isaac de la Peyrère (1592-1676), seorang pastor Protestant, berpendapat bahwa pengarang Taurat lebih dari seorang. Sebabnya, banyak kisah dalam Taurat yang kabur (obscurity), membingungkan (confusion), tidak lengkap (unfinished), terdistorsi (distorted), dan bertentangan (contradictions).[24]
Baruch Spinoza (1632-1677), yang mengganti nama Yahudinya dengan bahasa Latin Benedict de Spinoza, adalah seorang filosof dan teolog Yahudi yang menolak keimanan sebagai titik tolak untuk mengkaji Alkitab. Baginya, Alkitab harus dikaji dengan semangat penuh kebebasan tanpa prejudis keimanan.[25] Spinoza, yang diusir dari komunitas Yahudi di Amsterdam, menegaskan Musa bukanlah pengarang Taurat. Alasannya sebagai berikut: (1) Penulis Taurat bukan saja berbicara tentang Musa sebagai orang ketiga, tetapi juga menyaksikan berbagai perkara yang detil mengenainya. Seperti ‘God talked with Moses,’ ‘God spake with Moses face to face,’ Moses was the meekest of men,’ (Numbers 12:3), ‘Moses was wrath with the captains of the host,’ (Numbers 31:14), ‘Moses, the man of God,’ (Deuteronomy, 33:1), Moses, the servant of God, died,’ ‘There has never arisen in Israel a prophet like Moses, ‘ dan lain sebagainya. (2)  Taurat bukan saja memuat kematian Musa, penguburannya, dan 30 hari ratapan orang-orang Yahudi, tetapi juga perbandingan antara Musa dengan semua Nabi-Nabi yang datang setelahnya. (3) Taurat memuat berbagai nama tempat yang ada setelah zaman Musa. (4) Berbagi kisah terkadang bersambung setelah meninggalnya Musa.[26]  
Akhirnya, Spinoza menyimpulkan: “Jadi, dari pemaparan yang telah disebutkan adalah jelas diluar bayangan keraguan bahwa Taurat tidaklah ditulis oleh Musa, tetapi oleh seseorang yang hidup dalam banyak generasi setelah Musa.”[27]
Richard Simon (1638-1712), seorang pendeta Katolik berasal dari Perancis, dalam karyanya, Histoire critique du Vieux Testament (Historis-Kritis Perjanjian Lama, pada tahun 1678), menyatakan Taurat adalah hasil dari proses kompilasi yang panjang (the result of a long process of compilation).[28] Jean le Clerc (1654-1736), pada tahun 1685 memberikan garis panduan yang kemudian disebut sebagai “higher criticism,” yang bermaksud kebutuhan dan metode untuk menentukan kapan dan tujuan penulisan sebuah karya, dan sebagainya. Menurut Jean le Clerc, Taurat ditulis oleh seorang Pendeta yang kembali dari tahanan ke Samari untuk mengajar kepada penduduk baru tentang agama Israel. Pendeta tersebut telah menggabungkan berbagai sumber untuk memenuhi kebutuhan yang khusus. Dengan usahanya, Jean le Clerc telah menenjukkan unsur yang penting dalam studi kritis-historis: dokumen-dokumen Bibel telah dihasilkan dalam situasi-situasi historis khusus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus dengan maksud-maksud yang khusus.[29]
Kajian yang serius untuk meneliti bagaimana Taurat dihimpun, disusun sehingga menjadi sebuah teks yang utuh dilakukakan oleh Jean Astruc (1684-1766). Ia meneliti sumber-sumber yang digunakan untuk Musa untuk menyusun Taurat. Dalam pandangannya, Musa menulis Taurat berdasarkan beberapa dokumentasi tertulis. Belakangan para editor yang tidak diketahui namanya menggabungka dokumentasi-dokumentasi tersebut ke dalam kisah yang bersambung. Jadi, mereka lah yang sebenarnya bertanggung jawab atas susunan Kejadian (Genesis) yang ada sekarang ini.[30]   
Untuk mendukung wujudnya dokumentasi tertulis, Jean Astruc berargumentasi bahwa Kejadian 1 menggunakan kata Elohim untuk menyebut nama Tuhan, sedangkan cerita dalam Kejadian 2 dan 4 menggunakan kata Yahweh. Berdasarkan kepada fakta ini, Jean Astruc menyimpulkan Musa memiliki dua sumber dokumen. Dokumen pertama yang dengan teratur menggunakan Elohim dan dokumen yang kedua secara teratur menggunakan kata Yahweh.[31]
Dengan meneliti sumber yang digunakan untuk mengarang PL, Jean Astruc telah memformulasi apa yang kelak disebut dengan metode kritik sumber (source criticism). Source criticism mendapat wajah baru setelah Julius Wellhausen (1844-1918) menulis Prolegomena to the History of Israel (1878).  Menurut Wellhausen, sumber bagi Musa untuk menulis Taurat berasal dari 4 dokumen, yang disebut dengan dokumen J, E, D dan P. Materi dalam dokumen “J” (disebut demikian sebagai singkatan kepada Yahweh [Jehovah]) diduga telah ditulis sekitar 850 S.M di kawasan Kerajaan bagian selatan. Dokumen dalam “J” itu adalah personal, biografis dan anthropormofis. Dokomen dalam “J” meliputi kenabian seperti etika dan refleksi teologis. Materi dalam dokumen “E” (disebut demikian sebagai singkatan kepada Elohim [Tuhan]) dan ditulis sekitar tahun 750 S. M. di kawasan Kerajaan bagian Utara. Dokumen dalam “E” lebih objektif, kurang menyentuh masalah etika dan refleksi teologis serta cenderung kepada kasus partikular yang konkrit. Menurut beberapa sarjana setelah Wellhausen, kedua dokumen tersebut digabungkan sekitar tahun 650 S. M. oleh seorang editor yang tidak diketahui. Hasilnya menjadi “JE.” Karangan tersebut menjadi lengkap dangan materi “D” dan “P”. “D” ditulis sekitar tahun 621 S.M., dan “P” ditulis sekitar 570 sampai 445 S.M. Materi dalam dokumen “P” menyentuh asal-mula dan institusi teokrasi, genealogi, ritual dan pengorbanan (sacrifices).[32]
Bagaimanapun, dalam pandangan Hermann Gunkel (1862-1932), kritik sumber (source criticism), yang memfokuskan penelitian kepada pengarang dan kapan pengarang tersebut berkarya, bukanlah prioritas dalam studi kritis PL. Sebabnya, metode tersebut tidak cukup untuk menemukan akar-akar pemikiran keagamaan. Menurut Gunkel, fokus penelitian yang lebih penting untuk dilakukan adalah menelusuri latar-belakang teks dan fikiran keagamaan para pengarang, mencari asal mula (Sitz im Leben) dari bentuk (Gattungen) yang digunakan, serta menelusuri asal-mula motif dan tema di dalam dokumen-dokumen. Oleh sebab itu, kembali kepada sejarah ketika zaman transmisi oral, suatu keadaan dimana kehidupan sebenarnya ditemukan sangat penting untuk dikaji.[33]
Menurut Gunkel, kritik-kritik sumber telah mengabaikan puisi lisan dan bentuk-bentuk primitif yang masih ada dalam Taurat.[34] Padahal, memahami struktur, setting dan maksud dari setiap unit susastra dibelakang materi PL yang eksis, merupakan hal yang lebih penting. Gunkel mengibaratkan penafsir yang memulai dengan pengarang dan dokumen (yang menjadi fokus penelitian source criticism) bagaikan membangun rumah dengan atap. Gunkel tidak bermaksud menolak pendekatan source criticism yang dilakukan Wellhausen. Namun, dalam pandangannya, penelitian genre (Gattungsforschung) adalah penelitian yang lebih mendasar dan prioritas. Baginya, dengan mengetahui genre atau jenis-jenis sastra (literary types) yang terwakili di dalam PL, maka  kesusastraan Israel kuno secara menyeluruh, yaitu hubungannya yang fungsional dengan seluruh kehidupan masyarakat beserta sejarahnya dapat dipahami.[35]
Terinspirasi dengan analisa sejarah bentuk (Formgeschichte) yang diformulasikan Gunkel, para sarjana lain seperti Gerhard von Rad (1901-1971) dan Martin Noth (1902-1968) memfokuskan perhatian kepada proses transmisi materi di dalam fase-fase yang berikutnya, bukan kepada fase-fase awal. Mereka meneliti unit-unit yang lebih kecil yang selama berabad-abad mengalami perobahan di dalam bentuk serta isi dan dimasukkan ke dalam Taurat dan sebagainya. Metode ini disebut dengan metode kritis-historis (überlieferungsgeschichtliche).[36]
Berdasarkan pemaparan ringkas di atas, tampak jelas biblical criticism dalam studi PL telah berkembang dengan sangat mapan. Berikut ini diungkapkan secara ringkas perkembangan studi kritis Perjanjian Baru.

Studi Kritis Perjanjian Baru
          Biblical criticism juga telah mapan dalam studi Perjanjian Baru (PB). Naskah PB dalam bahasa Yunani kuno baru pertama kali dicetak pada tahun 1514 di Spanyol oleh Universitas Alcalá. Tapi, naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Kuno yang pertama kali mendapat sambutan di pasaran adalah adalah edisi naskah yang diterbitkan oleh Desiderius Erasmus (1469-1536) dari Rotterdam, Belanda pada tahun 1516. Naskah teks tersebut dijadikan textus receptus dan teks standar hingga tahun 1881.[37]
Perjanjian Baru versi Erasmus yang dijadikan textus receptus mendapat kritikan untuk pertama kalinya dari Richard Simon (1638-1712), seorang pendeta Perancis, yang dijuluki the ‘father of Biblical criticism’.[38] Memanfaatkan karya-karya Simon, John Mill (1645-1707), Dr. Edward Wells (1667-1727), Richard Bentley (1662-1742), Johann Albrecht Bengel (1687-1752), Johann Salomo Semler (1725-1791), Johann Jakob Griesbach (1745-1812), Johann Gottfried Herder (1744-1803) dan Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) telah menganalisa secara kritis textus receptus Perjanjian Baru.[39]
Di bawah pengaruh Schleiermacher, Karl Lachmann (1793-1851), seorang profesor filologi di Berlin, untuk pertama kalinya meninggalkan textus receptus secara total. Ia menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani kuno pada tahun 1831. Edisi baru tersebut menggunakan analisa teks ketika mengevaluasi varian bacaan. Dalam pandangannya, tidak mungkin teks orisinal Perjanjian Baru akan dapat dihasilkan lagi. Setelah Lachmann, banyak sekali para sarjana Kristen menganalisa teks dan menolak textus receptus, seperti Lobegott Friedrich Constantin von Tischendorf (1815-1874), Samuel Prideaux Tregelles (1813-1875), Henry Alford (1810-1871), Brooke Foss Westcott (1825-1901), Bernhard Weiss (1827-1918), Hermann Freiherr von Soden (1852-1914), dan lain-lainnya.[40]
            Uraian ringkas di atas menunjukkan pada abad 19, textus receptus Perjanjian Baru sudah ditolak. Berbagai jenis disiplin ilmiah untuk mengkritik Bibel (biblical criticism) telah mapan. Kata kritik (criticism) ketika dikaitkan dengan Perjanjian Baru bukan lagi sesuatu yang negatif. Kata tersebut justru sesuatu yang positif. Kata criticism berasal dari kata kerja Yunani, krinō: memisahkan, membedakan, memilih, menentukan atau menilai. Sarjana yang menggunakan metode kritis-historis bertindak sebagai sejarawan dan hakim yang berusaha untuk menentukan kebenaran problema yang sedang dikaji.[41]
            Salah satu bentuk dari biblical criticism adalah metode kritis-historis (historical-critical method). Ketika diterapkan pada studi Bibel, kritik-historis melibatkan penentuan teks yang paling lama, watak kesastraannya, kondisi-kondisi yang memunculkannya, dan makna asalnya. Ketika diterapkan utuk mengkaji Yesus dan Bibel, kritis-historis melibatkan usaha untuk memisahkan legenda dan mitos dari fakta, mengkaji mengapa para penulis Bibel melaporkan dengan versi yang berbeda-beda, dan berusaha menentukan mana yang betul-betul perkataan Yesus.[42]
Dalam metode yang luas ini, terdapat beberapa jenis kritik lain yang saling terkait diantaranya kritik teks (textual criticism), kajian filologis (philological study), kritik sastra (literary criticism), kritik bentuk (form criticism) dan kritik redaksi (redaction criticism).[43] 

Studi Kritis Al-Qur’Én  
Studi kritis PL dan PB, yang telah berkembang dengan mapan dalam Bibel diadopsi oleh para orientalis untuk diterapkan kepada al-Qur’Én. Salah seorang tokoh orientalis yang mulai menerapkan metodologi Bibel secara sistematis ke dalam studi al-Qur’Éan adalah Theodore Nöldeke, dengan karyanya Sejarah al-Qur’Én (Geschichte des Qorans).[44]
Pendeta Edward Sell (m. 1932), salah seorang tokoh misionaris terkemuka di Madras, India, mendesak agar kajian kritis-historis al-Qur’Én dilakukan dengan menggunakan kritik Bibel (biblical criticism). Ia sendiri merealisasikan gagasannya dengan menulis Historical Development of the Qur’Én, yang diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, India.[45] Ia juga menjadikan karya Theodore Nöldeke, Geschichte des Qorans, sebagai model untuk kajian kritis al-Qur’Én.[46]
Senada dengan Sell, Pendeta Alphonse Mingana (m. 1937) menyatakan: “Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.[47]
Menyamakan problematika semua kitab suci dengan al-Qur’Én, Arthur Jeffery (m. 1959), seorang orientalis berasal dari Australia berpendapat bahwa sebuah kitab itu dianggap suci karena tindakan komunitas masing-masing agama. Jeffery mengatakan: “Komunitaslah yang menentukan masalah ini suci dan tidak. Komunitaslah yang memilih dan mengumpulkan bersama tulisan-tulisan tersebut untuk kegunaannya sendiri, yang mana komunitas merasa bahwa ia mendengar suara otoritas keagamaan yang otentik yang sah untuk pengalaman keagamaan yang khusus.”[48]
Menurut Jeffery, fenomena seperti itu umum terjadi di dalam komunitas lintas agama. Komunitas Kristen (Christian community) misalnya, memilih 4 dari sekian banyak Gospel, menghimpun sebuah korpus yang terdiri dari 21 Surat (Epistles), Perbuatan-Perbuatan (Acts) dan Apocalypse yang kesemua itu membentuk Perjanjian Baru (New Testament). Sama halnya dengan komunitas Islam.  Penduduk Kufah, misalnya, menganggap MuÎÍaf ‘AbdullÉh ibn Mas‘Ëd sebagai al-Qur’Én edisi mereka (their Recension of the Qur’Én). Penduduk Basra menganggap MuÎÍaf AbË MËsÉ, penduduk Damaskus dengan MuÎÍaf MiqdÉd ibn al-Aswad, dan penduduk Syiria dengan MuÎÍaf Ubay.[49]
Menegaskan persamaan, Jeffery menyatakan sikap awal kaum Muslimin tersebut paralel sekali dengan sikap masing-masing pusat-pusat utama gereja terdahulu yang menetapkan sendiri beragam variasi teks untuk Perjanjian Baru. Teks Perjanjian Baru memiliki berbagai versi seperti teks Alexandria (Alexandrian text),[50] teks Netral (Neutral text),[51] teks Barat (Western text),[52] dan teks Kaisarea (Caesarean text).[53] Masing-masing teks tersebut memiliki varian bacaan tersendiri.
Bagaimanapun, Jeffery menyayangkan sikap para sarjana Muslim yang belum melakukan kritik teks kepada al-Qur’Én, sebagaimana yang telah dilakukan kepada Bibel. Hal ini tampak menurut Jeffery, karena belum ada satupun dari para mufasir Muslim yang menafsirkan al-Qur’Én secara kritis. Ia mengharapkan agar tafsir kritis terhadap teks al-Qur’Én bisa diwujudkan. Caranya dengan mengaplikasikan metode kritis ilmiah (biblical criticism). Jeffery meyatakan: “Apa yang kita butuhkan, bagaimanapun, adalah tafsir kritis yang mencontohi karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir al-Qur’an.”[54]
Dengan menggunakan “metode-metode penelitian kritis modern” (biblical criticism), Jeffery merancang proyek ambisius yaitu mengedit al-Qur’Én secara kritis (a critical editon of the Qur’Én). Sekalipun proyek Jeffery gagal disebabkan kematian kolega-koleganya dan perang dunia ke-2 yang menghancurkan 40.000 naskah lebih yang telah dihimpun Di Munich, usaha untuk mengadopsi metodologi Bibel kepada al-Qur’Én, masih terus berlanjut.
Pada pertengahan abad ke 20, John Wansbrough (m. 2002) dalam karyanya Quranic Studies yang terbit pada tahun 1977, menggunakan kritik sumber (source criticism) ke dalam studi al-Qur’Én. Ia menyatakan: “As a document susceptible of analysis by the instruments and techniques of Biblical criticism it is virtually unknown.[55]
Berlanjut sehingga kini, orientalis terus-menerus mengaplikasikan metodologi Bibel dalam studi al-Qur’Én. Baru-baru ini ketika mereview Die syro-aramäische Lesart des Koran. Ein Beitrag zur Entsclüsselung der Koransprache (Cara membaca al-Qur’Én dengan bahasa Syria-Aramaik. Sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesulitan memahami bahasa al-Qur’Én), karya Christoph Luxernberg (nama samaran), Robert R. Phenix Jr. and Cornelia B. Horn menyatakan: “Tidak di dalam sejarah tafsir al-Qur’Én karya seperti ini pernah dihasilkan. Karya-karya yang sama hanya dapat ditemukan di dalam bentuk kesarjanaan kritis teks Bibel.” (Not in the history of commentary on the Qur’Én has a work like this been produced. Similar works can only be found in the body of text-critical scholarship on the Bible.)[56]
Akibat penerapkan biblical criticism dalam studi al-Qur’Én, para orientalis  melontarkan berbagai pendapat yang kontroversial mengenai al-Qur’Én seperti:  al-Qur’Én telah mengalami berbagai penyimpangan; standartisasi al-Qur’Én disebabkan rekayasa politik dan manipulasi kekuasaan; Utsman ibn Affan salah karena telah mengkodifikasi al-Qur’Én; perlunya mewujudkan al-Qur’Én edisi kritis; al-Qur’Én ditulis bukan dengan bahasa Arab tetapi bahasa Aramaik; al-Qur’Én adalah karangan Muhammad; terdapat sejumlah kesalahan dalam penulisan al-Qur’Én; tidak ada di dalam al-Qur’Én yang orisinal dan berasal dari langit karena wujudnya pengaruh Yahudi-Kristen yang sangat dominant dalam al-Qur’Én, menyamaratakan qira’Éh mutawÉtirah dengan qira’Éh shÉdhdhah, merubah kata dan kalimat dalam al-Qur’Én dan lain sebagainya.

Kesimpulan
Menerapkan metodologi yang berbeda bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Karena metodologi kajian orientalis terhadap al-Qur’Én berdasarkan pengalaman mereka dalam metode kajian Bibel, maka sudah tentu kajian itu absen dari keimanan. Padahal, sebagai kitab suci agama Islam pengkajian terhadap al-Qur’Én mensyaratkan adanya keimanan. Sebab pengkajian yang hanya berdasarkan akal belaka hanya akan menimbulkan keraguan ketika menemui masalah-masalah yang tidak bisa dijangkau oleh akal. Oleh sebab itu, jika kaum Muslimin membaca karya orientalis mengenai al-Qur’Én, mereka perlu bersikap hati-hati dan kritis. Abu Hurayrah, Ibn ÑAbbas, Zayd ibn Aslam, Ibn Sirin, al-Hasan al-Basri, al-Dahhak, Ibrahim al-Nakhai menyatakan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah din (agama). Oleh sebab itu, perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.” (inna hadza al-Ñilm din fanzuru Ñamman ta´khuzuna dinakum).[57]
Selain itu, para orientalis tidak bisa dianggap sebagai pakar dalam studi al-Qur’Én, lebih-lebih dalam menafsirkan makna-makna didalamnya. Sebabnya, mereka tidak memenuhi beberapa persyaratan untuk menafsirkan al-Qur’Én, seperti akidah yang sahih, komitmen dengan kewajiban agama dan akhlak Islam. Al-ÙabarÊ, misalnya, menegaskan bahwa syarat utama seorang penafsir adalah akidah yang benar dan komitmen mengikut sunnah Nabi. Orang yang akidahnya cacat tidak bisa dipercayai untuk mengemban amanah yang berkaitan dengan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan! (min shartihi ÎiÍÍat al-itiqÉd, wa luzËm sunnat al-dÊn, fainna man kÉna magmËÎan ‘alayhi fÊ dÊnihi, lÉ yu’taaamana ‘alÉ al-dunyÉ, fa kaifa ‘alÉ al-dÊn!).[58] Senada dengan al-ÙabarÊ, al-SuyËÏÊ mengatakan bahwa sikap sombong, cenderung kepada bidah, tidak tetap iman dan mudah goyah dengan godaan, cinta dunia yang berlebihan dan terus-menerus melakukan dosa bisa menjadi hijab dan penghalang dari menerima anugerah ilmu Allah swt.[59]
Jadi, keimanan dan keyakinan akan kebenaran al-Qur’Én sangat penting bagi seorang yang mengkaji al-Qur’Én. Ini disebabkan status al-Qur’Én berbeda dengan teks-teks yang lain. Oleh sebab itu, metodologi sembarangan tidak bisa begitu saja diterapkan kepada al-Qur’Én. Metodologi yang tidak sesuai untuk mengkaji al-Qur’an akan menggiring kesimpulan yang justru bertentangan dengan esensi al-Qur’an sendiri. Metodologi Bibel memang hanya tepat diterapkan untuk Bibel, karena Bibel hasil karangan beberapa orang penulis yang hidup dalam zaman yang berlain-lainan. Latar belakang penulis yang beragam mewarnai isi Bibel. Oleh sebab itu, textus receptus dan teks standar Bibel memang harus ditolak karena justru menghilangkan keaneka-ragaman yang memang sejak awal sudah terjadi.
Alasan yang pasti mengapa Bibel tidak tepat untuk ditrapkan kepada al-Qur’Én adalah karena kaum Muslimin telah memiliki metodologi tersendiri. Metodologi kajian al-Qur’Én yang diwarisi dari para ulama itu adalah ‘ulËm al-Qur’Én. Meskipun ada beberapa persamaan antara ‘ulËm al-Qur’Én dan biblical criticism, namun terdapat sejumlah perbedaan yang mendasar terutamanya status teks itu sendiri. Jika teks Bibel bisa disamakan dengan teks-teks lain yang dikarang oleh manusia, maka al-Qur’Én tidak demikian, karena ia adalah tanzÊl yang tidak bisa disamakan dengan teks karangan manusia. Bahkan anggapan sementara orang bahwa al-Qur’an telah tercampur oleh perkataan Nabi Muhammad telah terbantah oleh firman Allah SWT yang artinya: “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudia benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”.[60] Allah juga berfirman yang artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’Én) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[61] Allah juga berfirman yang artinya:  “Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”[62]



[1] Perjanjian Lama (PL) adalah istilah yang diperkenalkan oleh penganut agama Kristen. Melito (m. ± 190 M), seorang Pendeta dari Sardis mungkin orang Kristen pertama yang menyebut istilah PL. Ia menyebutnya dalam bahasa Yunani kuno. Lihat Stephen Bigger, “Introduction” dalam Creating the Old Testament: The Emergence of the Hebrew Bible, editor Stephen Bigger (Oxford: Basil Blackwell, 1989), xiii.
[2] Ellis R. Brotzman, Old Testament Textual Criticism: A Practical Introduction (Michigan: Grand Rapids, 1994), 37.
[3] J. Alberto Soggin, Introduction to the Old Testament: From its origins to the closing of the Alexandrian canon, pen. John Bowden (London: SCM Press LTd, 1976), 32.
[4] Geza Vermes, The Complete Dead Sea Scrolls in English (New York: Penguin Group, 1997), 15.
[5] Henry Jackson Flanders, Jr., Robert Wilson Crapps & David Antony Smith, An Introduction to the Old Testament: People of the Covenant (Oxford: Oxford University Press, 1988, edisi ketiga), 20.
[6] Dikutip dari Muhammad Mustafa Azami, The History of the Qur’Énic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments (Leicester: UK Islamic Academy, 2003), 232, selanjutnya diringkas The History of the Qur’Énic Text.
[7] Alkitab (Lembaga Alkitab Indonesia: 2000).
[8] Ibid.
[9] Ibid., Garis miring sebagai penekanan berasal dari penulis.
[10] Muhammad Mustafa Azami, The History of the Qur’Énic Text, 233.
[11] Ibid., 233-34.
[12] Samaria adalah ibukota kerajaan Israel Utara sejak raja Omri (1 Raj 16:24). Pada tahun 722 S.M. direbut tentara Asyur (2 Raj. 17:5). Penduduknya dicampur dengan bangsa-bangsa lain, sehingga juga agama dicampur (2Raj. 17:24-41). Dalam Perjanjain Baru Samaria adalah daerah di antara Galilea (Utara) dan Yudea (selatan). Penduduknya dibenci oleh orang-orang Yahudi karena perbedaan agama dan kebiasaan. Dikutip dari Alkitab, 326.
[13] Menurut legenda yang ditemukan dalam Surat Aristeas (±100 SM), Ptolemy II Philadelphus dari Mesir (285-247) telah menugaskan tujuh puluh dua sarjana untuk menerjemahkan Taurat (Torah), yang mereka sempurnakan dalam tujuh puluh dua hari. Nama terjemahan ini disebut Septuagint (Septuaginta), bermkana tujuh pulh (dalam angka Romawi LXX) yang merujuk kepada seluruh Tenakh yang diterjemahkan oleh Yahudi di Alexandria ke dalam bahasa Yunani.
[14] Tidak jelas apakah Peshitta adalah hasil dari terjemahan Biblia Hebraica atau dari Targum. Bagaimanapun, dalam perkembangannya Peshitta yang direvisi banyak dipengaruhi dari Septuagint. Lihat Ellis R. Brotzman, Old Testament Textual Criticism: A Practical Introduction (Michigan: Baker Book House Company, 1994), 81.
[15] Ketika Bahasa Latin digunakan pada abad ke-3 M, Bibel dalam bahasa Latin tidak dapat dihindari. Versi Latin lama diterjemahkan dari Septuagint. Terjemahan tersebut disebut dengan Vulgata (Vulgate). Vulgata yang pertama dari Bibel Ibrani disempurnakan oleh Jerome (±342-420) pada tahun 405 M.
[16] James King West, Introduction to the Old Testament (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., edisi kedua, 1981), 6-7.
[17] Lawrence Boadt, Reading the Old Testament: An Introduction (New York: Paulist Press, 1984), 16-18, selanjutnya disingkat Reading.
[18] Ibid., 74.
[19] Ibid., 74-75.
[20] C. Houtman, ‘The Pentateuch,” dalam The World of the Old Testament: Bible Handbook, ed. A. S. Vand Der Woulde (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989), 2:168, selanjutnya disingkat The Pentateuch.
[21] Lihat lebih mendetil kritikan Ibn Ezra dalam Baruch Spinoza, Tractatus Theologico-Philosophicus, Pen. Samuel Shirley (Leiden: E. J. Brill, 1991), 162-63, selanjutnya disingkat Tractatus.
[22] Dikutip dari C. Houtman, The Pentateuch, 2:167.
[23] Dikutip dari John H. Hayes, An Introduction to Old Testament Study (Tennessee: Abingdon, 1979), 107-08, selanjutnya diringkas An Introduction.
[24] C. Houtman, The Pentateuch, 2:169.
[25] John H. Hayes, An Introduction, 110.
[26] Baruch Spinoza, Tractatus, 164-65.
[27] Baruch Spinoza menyatakan: “Thus from the foregoing it is clear beyond a shadow of doubt that the Pentateuch was not written by Moses, but by someone who lived many generations after Moses.” Lihat  Tractatus, 165.
[28] C. Houtman, Pentateuch, 2: 169.
[29] John H. Hayes, An Introduction, 112-13.
[30] C. Houtman, Pentateuch, 2: 170.
[31] Ibid., 2: 171.
[32] Allen P. Ross, “Genesis,” dalam The Bible Knowledge Commentary: An Exposition of the Scriptures, editor John F Walvoord dan Roy B. Zuck (Sp Publications, Inc., 1985), 15-16.
[33] C. Houtman, Pentateuch, 2: 176.
[34] Lawrence Boadt, Reading, 106.
[35] Dikutip dari John H. Hayes, An Introduction, 127-29.
[36] C. Houtman, Pentateuch, 2: 180-82.   
[37] Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration (Oxford: Oxford University Press, edisi kedua, 1968), 96-106, selanjutnya diringkas The Text of the New Testament.
[38] Richard Simon menulis beberapa karya kritis mengenai Bibel. Awal tahun 1678, ia menerbitkan Histoire critique du Vieux Testament (Sejarah Kritis Perjanjian Lama). Sebelas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1689, ia menerbitkan Histoire critique du texte Nouveau Testament (Sejarah Kritis Teks Perjanjian Baru). Setahun setelah itu, ia menerbitkan Histoire critique des versions du Nouveau Testament (Sejarah Kritis beragam versi Perjanjian Baru).  Pada tahun 1693, ia menerbitkan Histoire critique des principaux commentateurs du Nouveau Testament, depuis le commencement du Christianisme jusques á nôtre temps (Sejarah Kritis Komentator-Komentator Utama Perjanjian Baru dari Awal Kristen sehingga Zaman Sekarang). Lihat Werner Georg Kümmel, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problems, Pen. S. McLean Gilmour dan Howard C. Kee (Tennessee: Abingdon Press, 1972), 40; 412-13.
[39] Mengenai kritikan mereka terhadap textus receptus Perjanjian Baru, lihat karya penulis, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’Én: Kajian Kritis (Jakarta: GIP, 2005), 36-43, selanjutnya diringkas Metodologi Bibel.
[40] Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 124-46.
[41] Edwin D. Freed, The New Testament: A Critical Introduction (California: Wadsworth Publishing Company, edisi kedua 1991), 77, selanjutnya diringkas A Critical Introduction.
[42] Ibid.
[43] Pemaparan mengenai istilah-istilah tersebut, lihat karya penulis, Metodologi Bibel, 45-46.
[44] Mengenai latar belakang sejarah penulisan dan usaha bersama para orientalis Jerman menulis Geschichte des Qorans, lihat karya penulis,  Metodologi Bibel, 49-50; 54-57.
[45] Lihat Canon Sell, Studies in Islam (Delhi: B. R. Publishing Corporation, 1985; pertama kali terbit tahun 1928) 253-56. 
[46] Arthur Jeffery, “The Quest of the Historical Mohammed,” The Moslem World 16 (1926) 330.
[47] Mingana menyatakan: “The time has surely come to subject the text of the Kur’Én to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian Scriptures.” Lihat Alphonse Mingana, “Syiriac Influence on the Style of the Kur’Én,” Bulletin of the John Rylands Library 11: 1927.
[48] Arthur Jeffery menyatakan: “It was the community which decided this matter of what was and what was not Scripture. It was the community which selected and gathered together for its own use those writings in which it felt that it heard the authentic voice of religious authority valid for its peculiar religious experience.” Lihat Arthur Jeffery, “The Qur’Én as Scripture,” The Moslem World 40 (1950), 43.
[49] Arthur Jeffery, The Qur’Én as Scripture (New York: Russell F. Moore Company, 1952), 94-95.
[50] Menurut Westcott dan Hort, teks Alexandria dalam tahap tertentu terjaga di dalam kodeks Ephraemi (C), kodeks Regius (L), kodeks 33, dan versi-versi Koprik (Khususnya Bohairik), sebagaimana juga kutipan-kutipan dari Gerejawan Alexandria, Klement, Origen, Dionysius, Didymus dan Cyril. Dikutip dari Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 133.
[51] Dalam pandangan Westcott dan Hort, teks Netral adalah teks yang paling bebas dari kerusakan dan percampuran dan yang paling dekat dengan teks otograf. Kodeks Vaticanus (B) dan kodeks Sinaiticus (א) yang paling mewakili teks Netral. Lihat lebih lanjut Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 133. 
[52] Teks Barat terjaga di dalam manuskrip-manuskrip inci tertentu yang dalam dua bahasa (certain bilingual uncial manuscripts), utamanya kodeks Bezae tentang Bibel dan Perbuatan-Perbuatan (D) dan kodeks Claromontanus tentang Surat-Surat (Dp) dalam versi Latin Kuno (s) dan dalam manuskrip-manuskrip Kuretonia (Curetonian) yang berbahasa Syiriak Kuno. Lihat penjelasan lebih lanjut di Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 132; 213-14.
[53] Mungkin teks Kaesarea berasal dari Mesir dan dibawa oleh Origen ke Kaesarea, dan dari situ dibawa ke Israil. Karakteristik khusus dari teks Kaesarea adalah percampuran antara bacaan Barat (Western readings) dan Alexandria (Alexandria readings). Lihat Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, 214-15.
[54] Arthur Jeffery menulis: “What we needed, however, was a critical commentary which should embody the work done by modern Orientalists as well as apply the methods of modern critical research to the elucidation of the Koran. Lihat Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Qur’Én Text, The Moslem World 25 (1935), 4.
[55] John Wansbrough, Quranic Studies; Sources and Methods of Scriptural Interpretation (Oxford: Oxford University Press, 1970), ix
[56] Robert R. Phenix Jr. and Cornelia B. Horn, Christoph Luxenberg (ps.) “Die syro-aramaeische Lesart des Koran; Ein Beitrag zur Entschüsselung der Qur’ansprache.” Hugoye: Journal of Syiriac Studies, 1. Dikutip dari http://syrcom.cua.edu/Hugoye/Vol6NO1/HV6N1PRPhenixhorn.html
[57] ImÉm AbÉ HÉtim MuÍammad ibn ×ibbÉn, Kitab al-MajruhÊn min al-MuhaddithÊn wa al-ÖuÑafÉ’ wa al-MatrËkÊn, editor MaÍmËd IbrÉhÊm ZÉyid (×alb/Aleppo: DÉr al-WaÑy, 1396 H), 1: 21-23.
[58] Dikutip dari JalÉl al-DÊn al-SuyËÏÊ, al-ItqÉn fÊ ÑulËm al-Qur’Én (Beirut: DÉr al-KitÉb al-‘ArabÊy, 2003), 854.
[59] Ibid., 854-55.
[60]  Surah al-Haqqah (69: 44-46).
[61] Surah al-Najm (53: 3-4).
[62] Lihat juga firman Allah dalam surah-surah lain, seperti: Surah Fussilat (41: 42); al-Shuara’ (26: 192); al-Sajdah (32: 2); al-Zumar (39: 1); al-Mumin (40: 2); Fussilat (41: 2); al-Jathiyah (45: 2); al-Ahqaf (46: 20) al-Waqiah (56: 80); al-Haqqah (69: 43).

Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Terbesar dari Konya-Persia

          Dua orang bertengkar sengit di suatu jalan di Konya. Mereka saling memaki, “O, laknat, jika kau mengucapkan sepatah makian terh...