Kamis, 02 Mei 2013

Hermeneutika; Sebuah Produk Pandangan Hidup (worldview)


Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi*

 Pendahuluan
Hermeneutika adalah ilmu penafsiran yang berasal dari warisan mitologi Yunani. Ia kemudian di adopsi oleh orang-orang Kristen untuk mengatasi persoalan yang dihadapi teks Bible. Dalam tradisi intelektual Barat ilmu ini berkembang menjadi aliran filsafat. Sebagai sebuah ilmu ia berkembang menurut latar belakang budaya, pandangan hidup, politik, eknomi dan lain-lain. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu yang lahir dengan latar belakang pandangan hidup Yunani, Kristen dan Barat. Makalah ini akan membuktikan bahwa hermeneutika hermeneutika adalah ilmu yang merupakan produk dari pandangan hidup dan peradaban tersebut.

Mengapa pandangan hidup?

Mengapa kita perlu melihat hermeneutika dalam konteks pandangan hidup? Sebab setiap ilmu, konsep atau teori, termasuk hermeneutika, pasti merupakan produk dari masyarakat, atau bangsa yang memiliki peradaban dan pandangan hidup (worldview). Pandangan hidup suatu masyarakat adalah cara pandang mereka terhadap alam dan kehidupan. Ada beberapa faktor penting dalam padangan hidup manusia, dan yang terpenting adalah faktor kepercayaan terhadap Tuhan. Faktor ini penting karena mempunyai implikasi konseptual. Masyarakat atau bangsa yang percaya pada wujud Tuhan akan memiliki pandangan hidup berbeda dari yang tidak percaya pada Tuhan. Dalam buku Thinking Critically about Philosophical Problem, Thomas F Wall, menyebutkan bahwa Tuhan adalah:

the most important element in any worldview. …if we are consistent, we will also believe that the source of moral values is not just human convention but divine will and that God is the highest value. Moreover, we will have to believe that knowledge can be of more than what is observable and that there is a higher reality – the supernatural world.[1]

Implikasi negatifnya berarti bahwa bagi masyarakat yang tidak percaya pada Tuhan nilai moralitas adalah kesepakatan manusia (human convention), yang standarnya adalah kebiasaan, adat, norma atau sekedar kepantasan. Demikian pula realitas hanyalah fakta-fakta yang bersifat empiris yang dapat diindera atau difahami oleh akal sebagai kebenaran. Kekuatan disebalik realitas empiris, bagi mereka, tidak riel dan tidak dapat difahami dan dibuktikan kebenarannya meskipun sejatinya akal dapat memahaminya.
Pandangan hidup dalam Islam tidak hanya sebatas pandangan terhadap alam dan kehidupan nyata, tapi keseluruhan realitas wujud, yang oleh al-Attas di definisikan sebagai ru’yatal-Islam li al-wujud. Karena wujud Tuhan adalah wujud yang mutlak dan tertinggi sedangkan alam semesta seisinya adalah bagian dari wujud itu, maka konsep Tuhan sangat sentral dalam pandangan hidup Islam dan sudah tentu memiliki konsekuensi konseptualnya.
Namun tidak semua masyarakat yang percaya pada Tuhan memiliki worldview yang sama.  Sebab konsep dan pengertian Tuhan berbeda antara satu agama dengan agama lain. Konsep inilah sebenarnya yang membedakan karakateristik dan elemen pandangan hidup antara suatu bangsa dengan bangsa lain. Elemen pandangan hidup Islam seperti yang diformulasikan al-Attas, misalnya, terdiri dari konsep Tuhan, konsep wahyu, konsep penciptaan, konsep psikologi manusia, konsep ilmu, konsep agama, konsep kebebasan, konsep nilai dan kebajikan, konsep kebahagiaan dsb. Dari elemen-elemen ini dapat diketahui dengan mudah konsep moralitas dan ilmu, dan bahkan peran elemen-elemen itu dalam menentukan bentuk perubahan (change), perkembangan (development) dan kemajuan (progess) dalam Islam.[2]
Bagaimana pandangan hidup suatu peradaban dapat melahirkan suatu ilmu (science), telah dikaji secara mendasar oleh Alparslan dalam buku Islamic Science Towards a Definition. Dalam buku ini ditegaskan bahwa “ilmu hanya lahir dari pandangan hidup tertentu saja” (science arises within certain worldview only), meskipun ada pandangan hidup yang tidak dapat melahirkan ilmu.[3] Dalam teorinya, Alparslan menjelaskan bahwa suatu ilmu lahir didorong oleh tiga faktor penting yaitu:
1) Adanya komunitas ilmuwan yang memiliki pandangan hidup yang pada dataran konsep mereka memiliki apa yang disebut “lingkungan konseptual:” (conceptual environment).
2) Adanya keterkaitan (network) antara satu konsep dengan konsep keilmuan yang lain yang membentuk apa yang disebut sebagai “kerangka konsep keilmuan” (scientific conceptual scheme)
3) Dari adanya keterkaitan konsep itu terjadilah suatu ‘cara pandang” (outlook) terhadap sesuatu yang pada gilirannya akan menghasilkan saling hubungan antara satu dengan kosa-kata teknis (technical vocabulary) lainnya.[4]

Meskipun terdapat proses kelahiran yang lebih detail lagi namun proses diatas telah cukup untuk menguji bagaimana hermeneutika sebagai ilmu lahir dari pandangan hidup (worldview).  Untuk itu sebaiknya kita lihat bagaimana milieu masyarakat dimana teori hermeneutika berkembang. Sebagaimana disebutkan diatas bahwa suatu ilmu lahir dengan diawali oleh adanya komunitas ilmuwan yang membentuk sebuah lingkungan, demikian pula hermenetika. Werner menyebutkan tiga milieu penting yang berpengaruh terhadap timbulnya hermeneutika sebagai suatu ilmu atau teori interpretasi:

Pertama milleu masyarakat yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani.
Kedua    milieu masyarakat Yahudi dan Kristen yang menghadapi masalah teks kitab “suci” agama mereka dan berupaya mencari model yang cocok untuk intepretasi untuk itu.
Ketiga    milieu masyarakat Eropah di zaman Pencerahan (Enlightenment) berusaha lepas dari tradisi dan otoritas keagamaan dan membawa hermeneutika keluar konteks keagamaan.[5] 

Ketiga milieu penting ini bukan satu komunitas tapi lebih merupakan komunitas-komunitas yang secara periodik mengiringi perkembangan hermeneutika. Oleh sebab itu dengan menggunakan data tentang milllieu yang mengitari perkembangan hermeneutika seperti yang dikemukakan oleh Werner diatas kita dapat menggambarkan pengaruh pandangan hidup terhadap perkembangan hermeneutika dalam tiga fase yaitu: pertama dari mitologi Yunani ke teologi Yahudi dan Kristen dan kedua dari teologi Kristen yang problematik kepada gerakan rasionalisasi dan filsafat. Ketiga dari hermeneutika filosofis menjadi filsafat hermeneutika. Dari ketiga fase tersebut akan dilihat terjadinya perubahan pandangan hidup masyarakat dan pergeseran makna konseptual hermeneutika.



[1] Thomas F Wall, Thinking Critically about Philosophical Problem, A modern introduction, Wadworth, 2001, hal. 60. 
[2] Untuk lebih jelasnya lihat S.M.N, al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur, ISTAC, 1995, ix).
[3]Alparslan Acikgence,  Islamic Science, Towards  Definition, Kuala Lumpur, ISTAC 1996, 30
[4] Ibid, 60
[5]  Werner G.Jeanrond, Theological Hermeneutic, Development and Siginificance, Macmillan, London, 1991, hal.12-13

Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Terbesar dari Konya-Persia

          Dua orang bertengkar sengit di suatu jalan di Konya. Mereka saling memaki, “O, laknat, jika kau mengucapkan sepatah makian terh...