Tampilkan postingan dengan label Islamic Philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Philosophy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Terbesar dari Konya-Persia


          Dua orang bertengkar sengit di suatu jalan di Konya. Mereka saling memaki, “O, laknat, jika kau mengucapkan sepatah makian terhadapku, kau akan menerima sepuluh patah balasannya.” Jalaluddin Rumi, yang kebetulan lewat, mendengar pertengkaran itu. Dia mendatangi mereka dan berkata, “Saudara! Persediaan makian macam apa pun yang kalian punyai tumpahkanlah atas diriku. Kalian boleh melemparkan beribu makian padaku, dan kalian tak akan menerima balasan satu pun.” Dua orang yang bertengkar itu lupa akan segala makian mereka, bersujud di kaki Rumi dan mereka pun berdamai.

          Jalaluddin Rumi, penyair Sufi terbesar yang pernah dilahirkan dunia, yang karyanya Mathnawi termasyhur, lahir di Balkh pada 1207 M.  Dia berasal dari keluarga ulama besar, keturunan Khalifah Islam pertama. Kakeknya, husain Balkhi, adalah sarjana kebatinan yang begitu dihormati, sehingga Sultan Muhammad Khwarizm Shah mengawingkan anak perempuannya dengannya. Dengan demikian, penguasa Khawarizm adalah kakek Jalaluddin Rumi dari pihak ibu.
          Syeikh Bahauddin Balki, ayah Jalaluddin Rumi, diakui sebagai ahli ilmu pengetahuan terbesar dari zamannya di dunia Islam. Muhammad Khawarizm Shah menjai murid Syikh Bahauddin, dan acap kali mengunjunginya. Dia memberikan pendidikan dan memberi kuliah tentang segala persoalan.
          Tetapi, oleh persaingan di Istana, Syikh Bahauddin meninggalkan Balkh, diikuti oleh ratusan muridnya dan para pengikutnya bermigrasi ke arah Barat. Dia melewati Nishapur, dan pada tahun1212 bertemu kepada Syeikh Fariduddin Attar. Menurut penulis-penulis kronik, Fariduddin memeluk Jalaluddin, dan meramalkan kebesarnnya, mendoakan serta memberi sebuah salinan dari sajaknya, Asrar Nama. Dari Nishapur, Syeikh Bahauddin tiba di Baghdad, tempat dia bermukim beberapa tahun, memberi kuliah tentang soal-soal agama. Duta dari penguasa dinasti Saljuk, Kaikobad, yang juga menghadiri kuliah-kuliah itu, memujikan pengetahuan Syeikh itu yang dalam kepaa rajanya. Raja Kaikobad ikut menjadi murid Syeikh Bahauddin. Dari Baghdad, Syeikh dan rombongannya pergi Hejaz, kemudian ke Zanjan, dan tinggal setahun di sana. Kemudian, syeikh berangkat ke Larinda (Kirman), tempat dia menetap tujuh tahun. Di sini dia mengawinkan anaknya Jalaluddin Rumi dengan seorang wanita bernama Gauher, yang kelak melahirkan dua putra, Sultan Veld dan Alauddin. Penguasa Saljuk, Alauddin Kaikobad, seorang pengagum Syeikh, mengundangnya untuk tinggal di ibu kota. Menyetujui undangan itu, maka Syeikh pun berangkat ke Konya (Inconium), ibu kota kerajaan Saljuk. Raja Seljuk dan orang-orang istananya menyambut Syeikh di luar kota, dan mengiringnya dengan berjalan kaki. Di kota inilah Syiekh Bahauddin ,ayah Maulana Jalaluddin, wafat pada tahun 1231 M.
          Jalaluddin mendapat pendidikan pertam adari ayahnya yang terpelajar. Di antara para murid ayahnya, ada seorang sarjana terkenal, Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq. Jalaluddin dipercayakan ke tangan sarjana ini; dia mengajarkan Maulana semua soal dunia. Setelah ayahnya meninggal, Jalaluddin Rumi, yang berusia 25 tahun, pergi ke Damaskus dan Aleppo, dua pusat ilmu pengetahuan, untuk mendapat pendidikan lebih tinggi di masa itu. Sayyid Bahauddin juga mengajari Jalaluddin adat dan pengetahuan mistik. Sesudah gurunya meniggal, Jalaluddin jatuh kedalam pengaruh – dan mendapat pendidikan – dari Shams-I-Tabriz, “tokoh aneh’ yang digambarkan Nicolson: “Mengenakan pakaian hitam yang kasar, yang melintas cepat sesaat dihadapan kita, dan menghilang secara tragis.”
          Maulana Jalaluddin Rumi menjadi seorang sarjana besar, seorang putra yang pantas dari ayah yang terpelajar, dikelilingi oleh sarjana-sarjana dan pengikut-pengikut yang tertarik dari bagian-bagian jauh dunia Islam.  Di sini, pada tahun 624 H, dia bertemu dengan Shams-I-Tabriz. Perjumpaan ini terbukti merupakan titik balik dalam kehidupannya. Dari seorang guru duniawi, Rumi menjadi pertapa. Ia melemparkan semua kemeghahan dan kesenangan duniawi, mengundurkan diri kekehidupan sembahyang dan doa, dan ketaatan kepada guru kebatinannya, Shams-I-Tabriz. Perubahan tiba-tiba dalam kehidupannya ini menimbulkan kegelisahan di antara murid-muridnya. Untuk menenangkankegelisahan mereka, Shams-I-Tabriz menhilang dari Konya pada satu malam. Perpisahan dengan guru itu membuat Maulana tidak senang sama sekali, dan memberikan reaksi terhadap kejadian ini dengan meniggalkan keduniaan. Hal ini menimbulkan kekacauan yang dalam di kalangan keluarganya. Karena itu, putranya tertua diutus untuk mencari Shams-I-abris. Dia membawanya kembali ke Koyna dari Damaskus. Guru dan murid-muridnya tetap bersama-sama untuk sementara, dan pada suatu hari, karena dijengkelkan oleh sementara murid Maulana, Shams-I-Tabriz sekali lagi menghilang dari Konya untuk selam-lamanya. Pencarian yang tuntas terhadap wali itu, seklipun Rumi sendiri ambil bagian, berakhir dengan kegagalan.
                   Menghilangnya guru kebatinan ini mebawa perubahan besar dalam hidup Rumi, dan memberi ketajaman pada sentimen-sentimannya dan naluri inspirasi puitiknya, yang selama ini terpendam. Transformasi kerohanian yang revolusioner ini mencapai klimaks dengan curahan puitik yang tak terkendalikan. Awal dari Matnawi, karya abadinya, dikerjakan dalam periode ini.     
Jalaluddin Rumi telah membukakan pintu bagi kelahiran sebarisan ahli mistik, yang kemudian disebut Jalalia. Yang termashur di antara mereka, Syeikh Bu Ali Qalander dari Panipat, tinggal bersama Rumi untuk beberapa tahun, dan banyak terpengaruh olehnya. Seorang wali terkenal lainny, Syeikh Shabuddin Suhrawardy, juga mengambil manfaat dari didikan Rumi. Syeikh Sa’di, penyair dan moralis Persia termasyhur, menururt pengarang Manaqib-ul-Aarfeen,  juga telah mengunjungi Rumi di Konya.
Jalaluddin Rumi meninggalkan dua karya yang memberi dia kemasyhuran, Diwan dan Mathnawi yang abadi. Diwan,yang berisi 50.000 bait, terutama lirik mistik, pernah dianggap sebagai gubahan guru kebatinannya Shams-I-Tabriz, karena nama guru itu berkali-kali digunakan pada bait-bait akhir. Bagian terbesar karya ini digubah Rumi sesudah menghilangnya guru kebatinan itu, sementara Rida Quli Khan menganggap bagian utama karya ini digubah dalam memperingati kematian yang sang guru. Menurut Nicholson, “Suatu bagian bari Diwan digubah ketika Shams-I-Tabriz masih hidup, kemungkinan bagian terbesarnya diguah kemudian.”
Lirik-lirik Maulana penuh dengan kejujuran dan keagungan, emosi yang dalam dan semangat melupakan, yang memberi ciri karya-karya penyair mistik Persia, termasuk Sanai dan Attar. Lirik ini bebas dari ornamentasi dan pasitivi (hiasan dan ketidakpedulian), seperti yang lazim pada lirik Salman Khakani,dan Anwari.
Itulah masa berkembangnya penyair-penyair madah (panegyrists) besar di Persia, begitu hebat hingga penyair-penyair sekaliber Sa’di dan Iraqi puin tak bisa menahan diri mencoba-coba menggubah syair-syair pujian.
Tetapi, Maulana Rumi mengelakkan diri dari keburukan sosial yang tumbuh ini. Dia membatasi puisinya pada penerjemahan jujur perasaannya yang sesungguhnya ke dalam syair. Naluri dengan kelimpahan perasaan, lirik-liriknya mempunyai pesona puitik yang kuat, yang mengangkat seseorang kedunia yang lebih tinggi. Di menggugah perasaan-perasaan manusia yang lebih tinggi dan mulia.
Dengan keruntuhan kekuasaan Seljuk di Persia, pelindung para penyair pun lenyap. Sejak itu penyair memberi perhatian yang lebih besar kepada lirik, sebaliknya dari syair pujian. Penyair-penyir yang memperhalus lirik, dan membuana menjadi wahan perasaan-perasaan yagn tulus, adalah Rumi Sa’di, dan Iraqi. Maulana sendiri seorang mistik eremashur, maka dia secara setia menggambarkan berbagai taraf dari cinta, yang telah dialaminya dalam hidupnya.   
                   Mathnawi, karyanya yang abadi, tak diragukan lagi adalah buku yang paling popular dalam bahasa Persia. Buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa Timur dan Barat, dan telah memberinya tempat terhormat di antara sedkit penyair abadi di dunia. Menurut  penul;is buku Majma-us-Safa, empat buah buku terbaik dalam bahasa Persia adalah Shahnam-I-Firdausi, Gulistan-I-Sadi, Mathnawi-I-Rumi dan Diwani-I-Hafiz tetapi karya Rumi Mathnawi dianggap paling popular dari semua. Sejak semula dia menjadi kesayangan kaum intelektual dan agamawan. Sejumlah ulasan telah ditulis tentang buku ini.
                   Karya Maulana yang terdiri dari 6 buku dan memuat 26.660 bait, dan diselesaikan dalam 10 tahun. Menurut pengarangnya, Mathnawi berisi, “Akar-akar agama dan penemuan kegaiban-kegaiban alam dan pengetahuan Ketuhanan”. (Pengantar bahasa Arab pada Buku I). “Di dalamnya terdapat sejumlah besar anekdot pengembaraan,” tulis Browne dalam Sejarah Literer Persia. “Juga mengenai banyak watak, yang agung maupun dan bermartaat, yang aneh-aneh, diselingi penyimpanagan-penyimpangan mistik dan teosofi. Bahkan watak yang paling sulit dimengerti, dalam kontras yang tajam dengan bagian-bagian penceritaan, sekalipun menampilkan beberapa gaya ucapan yang pelik, bisa ditulisnya dalam bahasa yang sederhana dan terang. “Buku itu luar biasa, dibuka dengan spontan, tanpa lagu-lagu pujian (zikir) yang lazim, hanya dengan bagian yang indah dan terkenal, diterjemahkan oleh Almarhum Profesor E.H. Palmer dengan judul Nyanyian Buluh.
                   Mathwani (sajak naratif yang panjang) sebagai bentuk persajakan memulai kelahirannya dalam perlindungan Mahmud dari Ghaszani. Firdausi kemudian menjadikan bentuk ini sebagai wahana mengisahkan sejarah lama Persia dalam karyanya yang abadi, Shah Nama. Setelah itu, Hakim Sinai menulis Hadiqa, syair mistik pertama dalam bahasa Persia, kemudian diikuti oleh Khwaja Fariduddin Attar, dengan menulis beberapa Mathwani yang penuh dengan pemikiran mistik. Tetapi, Mathnawi Jalaluddin Rumi yang menandai klimaks persajakan puitik mistik, dan termasuk dalam syair-syair abadi di dunia.
                   Di antara faktor yang mendukung popularitas karya padu yang tiada tertandingi ini adalah keagungan pikiran dan kehalusan kumpulan gagasan, yang disajakkan dengan cara sederhana luar biasa, hampir-hampir tidak ditemukan dalam bahasa lain. Nilai-nilai etik dan mistiknya dengan indah diungkapkan melalui kisah-kisah yang cerdas, dan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehai-hari. Cara Malauna menerangkan problem-problem etik dan mistik yang berseluk-beluk itu, melalui cerita-cerita yang realistis, cukup menunjukkan bahwa ia mempunyai wawasan yang tajam kedalam rahasia-rahasia watak manusia. Bersama dia, seni mengajarkan moralitas melalui cerita, seperti dalam kehidupan sebenarnya, telah mencapai puncaknya. Dia menunjukkan sifat-sifat yang sebenarnya, telah mnecapai puncaknya. Dia menunjukkan sifat-sifat buruk manusia yang tersembunyi dengan cara sedemikian rupa, sehingga orang merasa telah mengetahui hal itu sebelumnya.
                    Ciri pokok syairnya adalah keagungan pikiran dan kesederhanaan serta spontanitas penyajiaannya. Sebaliknya dari pesimisme dan kehidupan pasrah, seperti yang diperaktekkan dan dikhotbahkan oleh kaum mistik secara umum, Maulana mengajarkan optimiseme yang sehat, dan suatu kehidupan yang penuh denagan ekegiatan. Dalam salah satu ceritanya, di  mempertahankan, bahwa kepercayaan diri sendirilah yang dimaksud oleh majikan ketika memberikan pacul ke tangan seorang buruh. Dengan cara yang sama pula Tuhan memberi kita tangan dan kaki, dan ingin agar kita menggunakan pemberian Tuhan itu. Sebab itu, hidup menolak dunia dan pasrah sesungguhnya bertentangan dengan kemauan Tuhan. Islam mengajarkan, seseorang harus berusaha sebaik-baiknya dan menyerahkan keputusannya kepada-Nya.
                   Sebelum bertemu dengan Shams-I-Tabriz, Maulana menjalani kehidupan semarak dan penuh kemegahan. Kemana saja ia pergi, dia diiringi oleh sejumlah besar pengikut dan murid. Sesudah itu dia menghabiskan waktunya dalam doa dan renungan. Biasanya di menghabiskan seluruh malam dengan shalat.
                   Dia sangat berprikemanusiaan dan pemurah. Penguasa-penguasa negeri tetangga dan orang-orang istananya mengirimkan hadiah-hadiah berharga, yang biasanya disedekahkan secara merata oleh Rumi di antara kaum miskin. Jika tidak ada makanan di rumhahnya, dia malah senang sekali malah berkata, “Hari ini rumah kita serupa dengan rumah para wali.” Dia begitu pemurah, sehingga bisa menawarkan apa yang lekat di badannya kepada seseorang yang memerlukan.
                   Dia menjauhi pergaulan dengan para penguasa dan orang istana. Para penguasa dan para mentri saling bersaing untuk menjadi orang yang disenangi oleh Rumi. Mereka sewaktu-waktu mengunjungi Maulana, tapi dia selalu mengelak sedapat mungkin.
                   Jalaluddin konon diberkahi dengan kekuatan ghaib sejak masa kanaknya. Tentang hal itu,  ada anekdot sebagai beriktu:
                   Sebagai anak kecil berumur 11 tahun, pada suatu hari Rumi bermain-main dengan teman-temannya di atas atap rumahnya. Rumi menganjurkan mereka sebaiknya pindah ke rumah depan, dan meneruskan bermain di sana. Tapi, dia sendiri tak mau turun  bersama merea, dan mengatakan bahwa dia akan melompat kerumah depan, sekalipun ada jalan yang lebar di antara kedua rumah itu. Itu lebih baik dari pada menuruni tangga. “Bagaimana hal itu mugkin? Kalau bukan jin, dan kau pun tak mempunyai lampu Aladdin untuk membawa kau keseberang melalui atap,” teriak teman-temannya. Ketika mereka sampai ke atap di seberang jalan itu, teman-temannya tercengang menemui Rumi sudah di sana.
                   Jalaluddin wafat pada 1273 M, dan dimakamkan dalam makam besar yang dibangun melingkupi kuburan ayanya di Konya, oleh Alauddin Kaikobad, penguasa Seljuk. Rakyat dari segala golongan dan lapisan mengantarkan jenazahnya, menangis dan meratap. Orang-orang Kristen dan Yahudi membacakan kitab-kitab mereka. Raja Seljuk, yang ikut mengantarkan jenazahnya, bertanya kepada orang-orang ini, apa hubungan mereka dengan Maulana yang shaleh itu. Mereka menjawab, “Jika yang meniggal ini sekiranya sama dengan Muhammad saw bagi Anda, maka dia bagi kami seumpama Kristus dan Musa.” Seluruh penduduk keluar untuk memberikan penghormatan terakhir pada orang suci yang berangkat itu.
                   Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair penting, seorang sufi  termasyhur, dan atas segalanya, seorang besar. “Dia tak diragukan lagi adalah penyair Sufi yang paling ulung, yang telah dilahirkan Persia,” tulis Browne, “sementara karya mistiknya Mathawani pantas mendapat tempat di antara puisi besar segala zaman.”
         

Senin, 13 Mei 2013

الجسد والروح


خلق بدن ابن آدم من الأرض وروحه من ملكوت السماء وقرن بينهما‏.‏ فإذا أجاع بدنه و أسهره وأقامه في الخدمة وجدت روحه خفة وراحة فتاقت إلى الموضع الذي خلت منه، واشتاقت إلى عالمها العلوي‏.‏ وإذا أشبعه ونعمه ونومه واشتغل بخدمته وراحته، أخلد البدن إلى الموضع الذي خلق منه فانجذبت الروح معه فصارت في السجن، فلولا أنها ألفت السجن لاستغاثت من ألم مفارقتها وانقطاعها عن عالمها الذي خلقت منه كما يستغيث المعذب‏.‏

وبالجملة فكلما خف البدن لطفت الروح وخفت وطلبت عالمها العلوي وكلما ثقل وأخلد إلى الشهوات والراحة ثقلت الروح وهبطت من عالمها وصارت أرضية سفلية، فترى الرجل‏:‏ روحه في الرفيق الأعلى وبدنه عندك، فيكون نائما على فراشه وروحه في السفل تجول حول السفليات‏.‏ فإذا فارقت الروح البدن التحقت برفيقها الأعلى أو الأدنى، فعند الرفيق الأعلى كل قرة عين وكل نعيم وسرور وبهجة ولذة وحياة طيبة، وعند الرفيق الأسفل كل هم وغم وضيق وحزن وحياة نكدة ومعيشة ضنك، قال تعالى‏:‏ ‏ «‏ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا‏» ‏ سورة طه ، الآية 124‏‏ فذِكْره كلامه الذي أنزله على رسوله والإعراض عنه ترك تدبره والعمل به ‏.‏ والمعيشة الضنك ، فأكثر ما جاء في التفسير‏:‏ أنها عذاب القبر، قاله ابن مسعود وأبو هريرة وأبو سعيد الخدري وابن عباس، وفيه حديث مرفوع‏.[1]


[1]  الفوائد_الإمام شمس الدين أبي عبد الله بن قيم الجوزية

البحث في النفس والروح


النفس والروح
        أطلق النفس فى القرآن على شيئ فى داخل كيان الإنسان، جامع لكثير من الصفات والخصائص الإنسانية التي لها آثارا فى السلوك الإنساني.[1] فالنفس البشرية كلها قد خلقت من نفس واحدة، هي نفس الإنسان الأول (آدم)، ثم اشتق الخالق من هذه النفس الواحدة نفس زوجها، ثم بثّ منهما عن طريق التناسل كل السلالات البشرية المتكاثرة حتى تقوم الساعة.[2] فالنفس هي المُكلّفة دائماً والمُخاطبة في القرآن (والنفس هي الذات) وهي الأساس في الإنسان وما الجسد إلا ثوباً للنفس ترتديه كي يكون الوسيط فيما بينها وبين العالم المادي وذلك من خلال الحواس الخمس.
فما حقيقة النفس؟ هل هي جزء من أجزاء البدن أو عرض[3] من أعراضه؟ أو جسم مساكن له مودع فيه أو جوهر[4] مجرد؟ وهل هي الروح أو غيرها؟ وهل الإمارة واللوامة والمطمئنة نفس واحدة لها هذه الصفات أم هي ثلاث أنفس؟.
  
حقيقة النفس.
قالت طائفة: النفس هي النسيم الداخل والخارج بالتنفس قالوا والروح عرض وهو الحياة فقط وهو غير النفس وهذا قول القاضي أبو بكر بن الباقلاني ومن اتبعه من الأشعرية.[5] وقالت طائفة ليست النفس جسما ولا عرضا وليست النفس في مكان ولا لها طول ولا عرض ولا عمق ولا لون ولا بعض ولا هي في العالم ولا خارجه ولا مجانبة له ولا مباينة وهذا قول المشائين وهو الذي حكاه الأشعري عن ارسططاليس وزعموا أن تعلقها بالبدن لا بالحلول فيه ولا بالمجاورة ولا بالمساكنة ولا بالالتصاق ولا بالمقابلة وإنما هو التدبير له فقط واختار هذا المذهب البسنجي ومحمد بن النعمان الملقب بالمفيد ومعمر بن عباد الغزالي وهو قول ابن سينا وأتباعه.[6]
وقالت فرقة أخرى من أهل الحديث والفقه والتصوف الروح غير النفس، قال مقاتل بن سليمان للإنسان حياة وروح ونفس فإذا نام خرجت نفسه التي يعقل بها الأشياء ولم تفارق الجسد بل تخرج كحبل ممتد له شعاع فيرى الرؤيا بالنفس التي خرجت منه وتبقى الحياة والروح في الجسد فيه يتقلب ويتنفس فإذا حرك رجعت إليه أسرع من طرفة عين فإذا أراد الله عز وجل أن يميته في المنام أمسك تلك النفس التي خرجت وقال أيضا إذا نام خرجت نفسه فصعدت إلى فوق فإذا رأت الرؤيا رجعت فأخبرت الروح ويخبر الروح فيصبح يعلم أنه قد رأى كيت وكيت. ثم قال أبو عبد الله بن منده ثم اختلفوا في معرفة الروح والنفس فقال بعضهم النفس طينية نارية والروح نورية روحانية   وقال بعضهم الروح لاهوتية والنفس ناسوتية وأن الخلق بها ابتلى.
ثم قالت طائفة وهم أهل الأثر أن الروح غير النفس والنفس غير الروح وقوام النفس بالروح والنفس صورة العبد والهوى والشهوة والبلاء معجون فيها ولا عدو أعدى لابن آدم من نفسه فالنفس لا تريد إلا الدنيا ولا تحب إلا إياها والروح تدعو إلى الآخرة وتؤثرها وجعل الهوى تبعا للنفس والشيطان تبع النفس والهوى والملك مع العقل والروح والله تعالى يمدهما بالهامة وتوفيقه.
فالقول الصحيح عند ابن قيم الجوزية هو أن النفس هي جسم مخالف بالماهية لهذا الجسم المحسوس وهو جسم نورانى علوي خفيف حي متحرك، ينفذ في جوهر الأعضاء ويسري فيها سريان الماء في الورد.[7] واستدل علي صحة هذا القول بكثير من الآيات القرآنية والأحاديث وإجماع الصحابة وأدلة العقل.[8] وسم ابن قيم النفس روحا لحصول الحياة بها وسميت نفسا إما من الشيء النفيس لنفاستها وشرفها وإما من تنفس الشيء إذا خرج، فلكثرة خروجها ودخولها في البدن سميت نفسا ومنه النفس بالتحريك فإن العبد كلما نام خرجت منه، فإذا استيقظ رجعت إليه فإذا مات خرجت خروجا كليا فإذا دفن عادت إليه فإذا سئل خرجت فإذا بعث رجعت إليه.
والفرق بين النفس والروح فرق بالصفات لا فرق بالذات وإنما سمي الدم نفسا لأن خروجه الذي يكون معه الموت يلازم خروج النفس، وإن الحياة لا تتم إلا به كما لا تتم إلا بالنفس.[9] أن البدن مركب ومحل لتصرف النفس فكان دخول البدن وخروجه وانتقاله جاريا مجرى دخول مركبه من فرسه ودابته.[10] والنفس موصوفة بالعلم والفكر والحب والبغض والرضا والسخط وغيرها من الأحوال النفسانية.[11]
وأما القوى التي في البدن فإنها تسمى أيضا أرواحا فيقال الروح الباصر والروح السامع والروح الشام فهذه الأرواح قوى مودعة في البدن تموت بموت الأبدان وهي غير الروح التي لا تموت بموت البدن ولا تبلى كما يبلى ويطلق الروح على أخص من هذا كله وهو قوة المعرفة بالله والإنابة إليه ومحبته وانبعاث الهمة إلى طلبه وإرادته ونسبة هذه الروح إلى الروح كنسبة الروح إلى البدن فإذا فقدتها الروح كانت بمنزلة البدن إذا فقد روحه. وهي الروح التي يؤيد بها أهل ولايته وطاعته ولهذا يقول الناس فلان فيه روح وفلان ما فيه روح ونحو ذلك. فللعلم روح وللإحسان روح وللإخلاص روح وللمحبة والإنابة روح وللتوكل والصدق روح والناس متفاوتون في هذه الأرواح أعظم تفاوت فمنهم من تغلب عليه هذه الأرواح فيصير روحانيا ومنهم من يفقدها أو أكثرها فيصير أرضيا بهيميا.[12]

هل النفس واحدة أم ثلاث؟
فقد وقع في  كلام كثير من الناس أن لابن آدم ثلاث انفس نفس مطمئنة ونفس لوامة ونفس أمارة وأن منهم من تغلب عليه هذه ومنهم من تغلب عليه الأخرى ويحتجون على ذلك بقوله تعالى: يا أيتها النفس المطمئنة، وبقوله تعالى: لا أقسم بيوم القيامة ولا أقسم بالنفس اللوامة، وبقوله تعالى: إن النفس لأمارة بالسوء.
ويقول ابن قيم إن نفس الإنسان في الحقيقة واحدة، ولكن لها صفات فتسمى بإعتبار كل صفة باسم. فتسمى مطمئنة بإعتبار طمأنينتها إلى ربها بعبوديته ومحبته والإنابة إليه والتوكل عليه والرضا به والسكون إليه.[13] ولا يمكن حصول الطمأنينة الحقيقية إلا بالله وذكره، كما قال تعالى: الذين آمنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله ألا بذكر الله تطمئن القلوب.[14] وتسمى لوامة لتوقعها فى الذنب والجهل والظلم التى يلومها الله وملائكته.[15] وتسمى الأخير بالأمارة لكونها مذمومة، فإنها التي تأمر بكل سوء. فما تخلص أحد من شر نفسه إلا بتوفيق الله له كما قال تعالى: وما أبرىء نفسي إن النفس لأمارة بالسوء إلا ما رحم ربي إن ربي غفور رحيم وقال تعالى ولولا فضل الله عليكم ورحمته ما زكا منكم من أحد أبدا وقال تعالى لأكرم خلقه عليه وأحبهم إليه ^ ولولا أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا.

الروح
        إن الروح من أعظم الآيات التى تدل دلالة واضحة على عظمة الخالق وقدرته. والبحث فيه أمر من الغيبيات لا يدركه العقل الإنسانى، لكن بعقله يدرك الإنسان أن هناك شيئا خارقا يحرك جسمه ويرى كل لخظة هذه الآيات العظمى ويتيقن الإنسان من وجودها حين يشهد الموت.[16] فلفظ الروح لم يتكرر فى القرآن إلاّ قليلا، واستعماله كان متنوعا.[17] فالروح من الأسرار الخفية التى لا يعلمها إلا رب البرية وإنها من أمر الله ولا يطلع على أمر الله أحد.[18] فهي التي تجعل خلايا الجسد حيّة وهي التي تجعل القلب ينبض والدم يجري والمعدة تهضم والشعر ينمو وغير ذلك من جميع العمليات (اللا إرادية).
فمات الإنسان بفراق روحه بدنه كان موت النفس في نفسها ميتة بمعنى زوال حياتها عنها ولهذا قال تعالى:{لاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ[19] وقال تعالى: وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ[20]}. فالموت المثبت غير الموت المنفي المثبت هو فراق الروح البدن والمنفي زوال الحياة بالجملة عن الروح والبدن وهذا كما أن النوم أخو الموت فيسمى وفاة ويسمى موتا وكانت الحياة موجودة فيهما. قال تعالى فى الزمر: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ.[21]


[1]   عبد الرحمن حسن جنبكة الميداني، الأخلاق الإسلامية وأسسها الجزء الأول، دار القلم، دمسق، 1420هــــ 1999مـ، ص: 229
[2]  عبد الرحمن حسن جنبكة الميداني، المرجع السابق، ص: 229
[3]  العرض: باصطلاح الفلاسفة والمتكلمين هو ما لا يقوم بنفسه كاللون والرائحة والطول.
[4]  الجوهر: باصطلاح الفلاسفة والمتكلمين هو ما قام بنفسه، عقس العرض.
[5]  ابن قيم الجوزية، الروح، في الكلام على أرواح الأموات والأحياء بالدلائل من الكتاب والسنة، تحقيق: محمد اسكندر يلدا، دار المكبت العلمية، بيروت، لبنان، 1982، ص: 240، وقال في هذا القول " لو كانت كما يقوله أنها عرض لكان الإنسان كل وقت قد يبدل مائة ألف نفس أو أكثر والإنسان إنما هو إنسان بروحه ونفسه لا ببدنه وكان الإنسان الذي هو الإنسان غير الذي قبله بلحظة وبعده بلحظة وهذا من نوع الهوس ولو كانت الروح مجردة وتعلقها بالبدن بالتدبير فقط لا بالمساكنة والمداخلة لم يمتنع أن ينقطع تعلقها بهذا البدن وتتعلق بغيره كما يجوز انقطاع تدبير المدبر لبيت أو مدينة عنها ويتعلق بتدبير غيرها وعلى هذا التدبير فنصير شاكين في أن هذه النفس التي لزيد هي النفس الأولى أو غيرها وهل زيد هو ذلك الرجل أم غيره وعاقل لا يجوز ذلك فلو كانت الروح عرضا أو أمرا مجردا لحصل الشك المذكور." انظر: ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 261
[6]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 240. وأكد أن هذا القول هو أردى المذاهب وأبطلها وأبعدها من الصواب.
[7]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 276
[8]   انظر: ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 277-289
[9]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 291-292
[10]   ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 260-261
[11]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 261
[12]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 293-294
[13]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 293-295
[14]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 295
[15]  ابن قيم الجوزية، الروح...، ص: 302
[16]  نبيه عبد الرحمان عثمان، المرجع السابق، ص: 103
[17]  وقد وردت هذه الكلمة بما يفيد إضافة الحياة من الله على الإنسان. كقوله تعالى: فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوْحِى فَقَعُوْا لَهُ سَاجِدِيْنَ (سورة: الإسراء: 85)  وقوله تعالى: ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُوْحِهِ (سورة: الحجر: 129)
[18]  نبيه عبد الرحمان عثمان، المرجع السابق، ص: 104
[19]  البقرة: 154
[20]  آل عمران: 169، مع أنهم موتى داخلون في قوله آل عمران كل نفس ذائقة الموت وفي قوله الزمر إنك ميت وإنهم ميتون وقوله الحج وهو الذي أحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم
[21]  الزمر: 42

ترجمة حياة ابن القيم الجوزية



هو محمد بن أبي بكر بن أيوب بن سعد بن حريز بن مكي زيد الدين الزُّرعي ثم الدمشقي الحنبلي الشهير بشمس الدين،[1] عرف بالعلم والالتزام بالدين واشتهر خصوصاً بابن قيم الجوزية.[2] ولد في اليوم السابع من شهر صفر لعام 691هـ، الموافق 2  فبراير 1292 مـ.[3] وقيل أنه ولد في ازرع جنوب سوريا وقيل في دمشق. عرف من حياة والده أنه كان ذا علم وفضل ونباهة شأن وآله كانوا مثالا لعلوم الأخلاق ومكارمها.[4] قال ابن كثير عنه: "كان (ابن قيم الجوزية) حسن القراءة والخلق كثير التودد، لايحسد أحدا ولا يؤذيه ولايستعيبه ولا يحقد على أحد وبالجملة كان قليل النظر فى مجموعه وأموره وأحواله، والغالب عليه الخير والأخلاق الفاضلة".[5]
كان ابن القيم الجوزية موصوف فى ترجمته بالحنبلي كأسلافه وعقبه، ولكن حظه منه الاتباع لما أيده الدليل.[6] ومنهجه فى عامة كتبه ومباحثه ما يسير عليه رواد المدرسة السلفية التى شيدها شيخ الإسلام ابن تيمية. وأهم خصائص هذه المدرسة هي:  الاعتماد على الأدلة من الكتاب والسنة، وتقديم أقوال الصحابة رضي الله عنهم على من سواهم، والسعة والشمول.[7]  
قد ارتبطت حياة ابن القيم العملية بحياته العلمية ارتباط الروح بالبدن، فلم تخرج أعماله التى سجلها التاريخ عن محيط العلم وخدمته. ونستطيع أن نحصر مؤلفاته بلغت أكثر من  98 مؤلفاً،  منها ما يلي: إعلام الْمُوَقِّعِينَ عن رب العالمين. إغاثة اللهفان من مصائد الشيطان. بدائع الفوائد، تُحْفَةُ الْمَوْدُودِ بِأَحكامِ الْمَولُود، تهذيب مختصر سنن أبي داود، جَلاءُ الأفهامِ في الصَّلاةِ والسَّلامِ عَلى خَيْرِ الأَنَامِ، الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي، حادي الأرواح إلى بلاد الأفراح، روضة الْمُحِبِّين وَنزهةُ الْمُشْتَاقِين، الرُّوح، زَادُ الْمَعَادِ فِي هَدْيِ خَيْرِ الْعِبَادِ، شفاءُ العَلِيلِ  في مسائلِ القضاء  والقدر والحكمة والتعليل، الوَابِلُ الصَّيِّبُ من الكَلِمِ الطَّيِّبِ، طريقُ الْهِجْرَتَيْنِ وبَابُ السَّعَادَتين، عِدَةُ الصَّابرين وذخيرةُ الشَّاكرين، الفوائد، مَدَارِجُ السَّالِكِين بين مَنَازِلِ إيَّاك نَعْبدُ وإياك نَسْتَعِين، الْمَنَارُ الْمُنِيفُ في الصَّحِيحِ والضَّعِيفِ، مفتاحُ دارِ السَّعادة، ومنشورُ ولاية أهل العِلْمِ والإرادة).


[1]  بكر بن عبد الله أبو زيد، المرجع السابق: 17
[2]  مراجع سيرته: ذيل طبقات الحنابلة   لابن رجب (2/447)، ذيل العبر  للذهبي (5/282)، المقصد الأرشد لابن مفلح (2/ 384)، الدر المنضد للعليمي (2/ 521) المنهج الأحمد للعليمي (5/92)، معجم المؤلفين لرضا كحالة (3/164)،  ابن القيم حياته وآثاره للشيخ بكر أبو زيد رحمه الله.
[3] انظر: طبقات المفسرين (2/91) طبقة الأولى: 1396 هـ، بمطبعة الاستقلال بمصر.
[4]  بكر بن عبد الله أبو زيد، المرجع السابق، ص: 43
[5]  انظر: البداية والنهاية: (14/202) وقال ابن رجب: "كان رحمه الله ذا عبادة وتهجد وطول صلاة إلى الغاية القصوى، وتأله ولهج بالذكر، وشغف بالمحبة والإنابة والاستغفار إلى الله والانكسار له، والإطراح بين يديه على عتبه عبوديته لم أشاهد مثله فى ذالك، ولا رأيت أوسع منه علما ولا أعرف بمعاني القرآن والسنة وحقائق الإيمان أعلم منه وليس هو المعصوم ولكن لم أر فى معناه مثله". انظر: ذيل طبقات الحنابلة، (2/450)
[6]  بكر بن عبد الله أبو زيد، المرجع السابق: 73
[7]  ثم فتاوى التابعين، ثم فتاوى تابعيهم، وهكذا، والقياس، والاستصحاب، والمصلحة، وسد الذرائع، والعرف. انظر:بكر بن عبد الله أبو زيد، المرجع السابق: 75-96. 

البحث في القلب والعقل

القلب
        لفظ القلب يطلق لمعنيين، أحدهما: اللحم الصنوبري الشكل، المودع في الجانب الأيسر من الصدر، وهو لحم مخصوص، وفي باطنه تجويف، وفي ذلك التجويف دم أسود هو منبع الروح ومعدنه، ولسنا نقصد الآن شرح شكله وكيفيته، إذ يتعلق به غرض الأطباء، ولا يتعلق به الأغراض الدينية، وهذا القلب موجود للبهائم، بل موجود للميت، ونحن اذا اطلقنا لفظ القلب في هذا البحث لم نعن به ذلك، فإنه قطعة لحم لا قدر له، وهو من عالم الملك والشهادة، إذ تدركه البهائم بحاسة البصر فضلاً عن الآدميين.
أشار ابن قيم أن القلب له حياة وموت، ومرض وشفاء، وذلك أعظم مما للبدن. فحياة القلب ليست مجرد الحس والحركة الإرادية أو مجرد العلم والقدرة، بل الحياة صفة قائمة بالموصوف وهي شرط في العلم والارادة والقدرة على الأفعال الاختيارية وهي أيضا مستلزمة لذلك فكل حي له شعور وإرادة وعمل اختياري بقدرة وكل ماله علم وإرادة وعمل اختياري فهو حي و الحياء مشتق من الحياة فإن القلب الحي يكون صاحبه حيا فيه حياء يمنعه عن القبائح فإن حياة القلب هي المانعة من القبائح التي تفسد القلب.[1]
القلب يمرض كما يمرض البدن وشفاؤه في التوبة والحمية، ويصدأ  كما تصدأ المرآة وجلاؤه بالذكر‏.‏ ويعرى كما يعرى الجسم وزينته التقوى، ويجوع ويظمأ كما يجوع البدن، وشرابه المعرفة والمحبة والتوكل والإنابة والخدمة‏.[2] مرض القلب نوعان: نوع لا يتألم به صاحبه فى الحال، كمرض الجهل[3] ومرض الشبهات والشكوك[4] ومرض الشهوات. وسكرة الجهل والهوى تحول بينه وبين إدراك الألم. والنوع الثانى: مرض مؤلم له فى الحال، كالهم والغم والحزن والغيظ[5]،[6] وهذا كما أن القلب قد يتألم بما يتألم به البدن ويشقى بما يشقى به البدن فكذلك البدن يتألم كثيرا بما يتألم به القلب، ويشقيه ما يشقيه.[7]
ثم قسم ابن قيم الجوزية القلب الى ثلاثة : قلب خال من الإيمان وجميع الخير فذلك قلب مظلم، و قلب قد استنار بنور الإيمان وأوقد فيه مصباحه لكن عليه ظلمة الشهوات وعواصف الاهوية، و قلب محشو بالإيمان قد استنار بنور الإيمان وانقشعت عنه حجب الشهوات. فالأول: قد استراح الشيطان من إلقاء الوساوس إليه لأنه قد اتخذ بيتا ووطنا وتحكم فيه بما يريد وتمكن منه غاية التمكن. والثانى: فللشيطان هنالك إقبال وإدبار ومجالات ومطامع فالحرب دول  وسجال وتختلف أحوال هذا الصنف بالقلة والكثرة فمنهم من أوقات غلبته لعدوه أكثر ومنهم من أوقات غلبة عدوه له أكثر ومنهم من هو تارة وتارة. والثالث: قد أقلعت عنه تلك الظلمات فلنوره في صدره إشراق ولذلك الإشراق إيقاد لو دنا منه الوسواس احترق به فهو كالسماء التي حرست بالنجوم فلو دنا منها الشيطان يتخطاها رجم فاحترق وليست السماء بأعظم حرمة من المؤمن وحراسة الله تعالى له أتم من حراسة السماء والسماء متعبد الملائكة ومستقر الوحي وفيها أنوار الطاعات وقلب المؤمن مستقر التوحيد والمحبة والمعرفة والإيمان وفيه أنوارها فهو حقيق أن يحرس ويحفظ من كيد العدو فلا ينال منه شيئا إلا خطفه.
وإنما يستقيم له هذا باستقامة قلبه وجواره فاستقامة القلب بشيئين : أحدهما أن تكون محبة الله تعالى تتقدم عنده على جميع المحاب.[8] الأمر الثاني: تعظيم الأمر والنهى وهو ناشيء عن تعظيم الآمر الناهي فإن الله تعالى ذم من لا يعظم أمره ونهيه قال سبحانه وتعالى: مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَاراً.[9]
‏‏‏العقل
مجمل لفظ "العقل" في القرآن الكريم تدور المعاني حول العقل بمعنى القوة "المتهيئة" لقبول العلوم كما في قوله تعالى: وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ.[10] و هذه القوة هي التي يحصل بها التميز بين الحسن و القبيح، و كذلك يكون بها العلم بصفات الأشياء من حيث الكمال والنقصان. و يسمى العقل قلبا كما يسمى القلب عقلا، قال الحق سبحانه: ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ،[11] و قول الرسول: إن في ذلك لذكرى لمن كان له قلب قال الفراء "أي عقل". و قد ورد في أحاديث رسول الله صلى الله عليه و سلم ما يؤكد هذا المعنى (واعقل عقل قلبك[12]) ، (وليعقل قلبك[13]) ، (قد أفلح من جعل قلبه واعيا[14]).
كان الإمام الغزالي (ت 505 هـ) يشير إلى تعدد معاني العقل التي منها قوة تحصيل العلوم، و الصفة الباطنة التي تميز الإنسان عن الحيوان. إلا أن أهم معاني العقل عنده ترتبط بمفهوم التحصيل القلبي، و ذلك على معنيين: أحدهما: يراد به العلم بحقائق الأمور، فيكون عبارة عن صفة العلم الذي محله العقل. الثاني: يراد به المدرك للعلوم فيكون هو القلب أي تلك اللطيفة.
والرازى يقول أن العقل هو العلم ومحل العلم هو القلب، وأن القلب آلة للتعقل. فيستدل الرازي بقول تعالي: {قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا} العلم، وقوله: {يَعْقِلُونَ بِهَا}، ثم قال، إن مجرد العقل سبب في أن يجب علينا فعل ما ينتفع، وترك ما يتضرر. وهذا كما وفسّر الآية: مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً (الإسراء:15) المراد وما كنا معذبين في الأعمال التي لا سبيل إلى معرفة وجوبها إلا بالشرع أو بعد مجيء الشرع وقيام الدلائل.[15]
قيشيد ابن القيم بقيمة العقل وفضله، ويعرف العقل موافقا بما عرفاه الغزلي والرازي، أنه آلة كل علم وميزانه الذي يعرف صحيحه من سقيمه. ويذكر قول بعض الحكماء السابقين وهو أن العقل ملك والبدن وروحه وحواسه وحركاتها كلها رعية له. فإذا ضعف عن القيام عليها وتعهدها وصل الخلل إليها كلها.[16] ويقول ابن قيم أن العقل عقلان: عقل غريزي طبعي، هو أبو العلم ومربيه ومثمره وعقل كسبي مستفاد، وهو ولد العلم وثمرته ونتيجته، فإذا اجتمعا في العبد استقام أمره، واقبلت عليه جيوش السعادة من كل جانب، وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء، وإذا فقدهما، فالحيوان البهيم أحسن حالاً منه، وإذا فقد أحدهما أو انتقص، انتقص صاحبه بقدر ذلك.[17]
ويقسم أيضا إلي عقل علمي و عقل عملي كما فعل الفلاسفة السابقون مثل الفارابي وابن سينا، وذكر وجود فروق فردية بين الناس من حيث تفوق وغلبة أحد هذين العقلين على الأخر. فمن الناس من تكون قوته العقلية العلمية أقوى وأغلب القوتين عليه ويكون ضعيفا فى القوة العملية. ومنهم من يكون عكس ذلك. يقول ابن قيم: "فمن الناس من يكون له القوة العلمية الكاشفة .....، يبصر الحقائق ولايعمل بموجبها ويرى المتالف والمخاوف والمعاطب ولايتوقاها، فهو فقيه مالم يحضر العمل، فإذا حضر العمل شارك الجهال فى التخلف، وفارقهم فى العلم. فهذا هو الغالب على أكثر النفوس المشتغلة بالعلم. ومن الناس من تكون له القوة العملية الإدراكية وتكون أغلب القوتين عليه. وتقتضى هذه القوة السير والسلوك والزهد فى الدنيا والرغبة فى الآخرة والجد والتشمير فى العمل. ويكون أعمى البصر عند ورود الشبهات فى العقائد والإنحرافات فى الأعمال والأقوال المقامات، كما كان الأول ضعيف العقل عند ورود الشبهات. فداء هذا من جهله، وداء الأول من فساد إرادته وضعف عقله...."[18]



[1]  ابن قيم الجوزية، رسالة فى أمراض القلوب و شفاؤها، تحقيق محمد حامد الفقي، الرياض: دار طيبة، 1403 هـ
[2]  والمقصود: أن من أمراض القلوب ما يزول بالأدوية الطبيعية. ومنها ما لا يزول إلا بالأدوية الشرعية الإيمانية  انظر: ابن قيم الجوزية، بدائع الفوائد، على بن محمد العمران، المجلد الأول، دار العلم الفوائد.
[3]  الجهل مرض يؤلم القلب. فمن الناس من يداويه بعلوم لا تنفع، ويعتقد أنه قد صح من مرضه بتلك العلوم، وهى فى الحقيقة إنما تزيده مرضا إلى مرضه، لكن اشتغال القلب بها عن إدراك الألم الكامن فيه، بسبب جهله بالعلوم النافعة، التى هى شرط فى صحته وبرئه، وقال النبى صلى الله تعالى عليه وآله وسلم فى الذين أفتوا بالجهل، فهلك المستفتى بفتواهم "قتلوه، قتلهم الله، ألا سألوا إذ لم يعلموا؟ فإنما شفاء العى السؤال"، فجعل الجهل مرضا وشفاءه سؤال أهل العلم.
[4]  وكذلك الشاك فى الشىء المرتاب فيه، يتألم قلبه حتى يحصل له العلم واليقين، ولما كان ذلك يوجب له حرارة قيل لمن حصل له اليقين: ثلج صدره، وحصل له برد اليقين، وهو كذلك يضيق بالجهل والضلال عن طريق رشده، وينشرح بالهدى والعلم،[4] قال الله تعالى: {فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهديَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَن يُرِدْ أَنْ يضِلّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كأَنماَ يَصَّعَّدُ فِى السَّماء }الأنعام: 125}
[5]  فالغيظ يؤلم القلب، ودواؤه فى شفاء غيظه، فإن شفاه بحق اشتفى، وإن شفاه بظلم وباطل زاده مرضا من حيث ظن أنه يشفيه، وهو كمن شفى مرض العشق بالفجور بالمعشوق، فإن ذلك يزيد مرضه، ويوجب له أمراضا أُخر أصعب من مرض العشق ، وكذلك الغم والهم والحزن أمراض للقلب، وشفاؤها بأضدادها: من الفرح والسرور، فإن كان ذلك بحق اشتفى القلب وصح وبرئ من مرضه، وإن كان بباطل توارى ذلك واستتر، ولم يزل، وأعقب أمراضا هى أصعب وأخطر.
[6]  وهذا المرض قد يزول بأدوية طبيعية، كإزالة أسبابه، أو بالمداواة بما يضاد تلك الأسباب، ويدفع موجبها مع قيامها.
[7]  ابن قيم الجوزية، إغاثة اللهفان من مصايد الشيطان، الجزء الأول
[8]  فإذا تعارض حب تعالى الله وحب غيره سبق حب الله تعالى حب ما سواه فرتب على ذلك مقتضاه؛ ما أسهل هذا بالدعوى وما أصعبه بالفعل فعند الامتحان يكرم المرء أو يهان وما أكثر ما يقدم العبد ما يحبه هو ويهواه أو يحبه كبيره وأميره وشيخه وأهله على ما يحبه الله تعالى فهذا لم تتقدم محبة الله تعالى في قلبه جميع المحاب ولا كانت هي الملكة المؤمرة عليها وسنة الله تعالى فيمن هذا شأنه أن ينكد عليه محابه وينغصها عليه ولا ينال شيئا منها إلا بنكد وتنغيص جزاء له على إيثار هواه وهوى من يعظمه من الخلق أو يحبه على محبة الله تعالى.
[9]  سورة: نوح: 13، ومعنى كلامه أن أول مراتب تعظيم الحق عز و جل تعظيم أمره ونهيه وذلك المؤمن يعرف ربه عز و جل برسالته التي أرسل بها رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى كافة الناس ومقتضاها الانقياد لامره ونهيه وإنما يكون ذلك بتعظيم أمر الله عز و جل واتباعه وتعظيم نهيه واجتنابه فيكون تعظيم المؤمن لأمر الله تعالى ونهيه دالا على تعظيمه لصاحب الأمر والنهي ويكون بحسب هذا التعظيم من الأبرار المشهود لهم بالايمان والتصدق وصحة العقيدة.
[10]  العنكبوت: 43
[11]  المنافقون: 3
[12]  تفسير الطبري (15/61) وعلقه البخاري في الصحيح برقم (7281) ورواه الترمذي في السنن برقم (2860) من طريق قتيبة عن الليث به، وقال الترمذي: "هذا حديث مرسل، سعيد بن أبي هلال لم يدرك جابر بن عبد الله" قال: "وقد روي هذا الحديث من غير وجه عن النبي صلى الله عليه وسلم بإسناد أصح من هذا" قلت: رواه البخاري في صحيحه برقم (7281) من طريق يزيد عن سليم بن حيان، عن سعيد بن أبي ميناء، عن جابر بن عبد الله بنحوه. انظر: تفسير القرطبي (ج: 8/329)، الشوكاني،  فتح القدير (3/369)، إسماعيل بن عمر بن كثير الدمشقي أبو الفداء، تفسير ابن كثير (2/543)، محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح القرطبي أبو عبد الله، تفسير القرطبي (8/296)، محمد بن عيسى بن سَوْرة بن موسى بن الضحاك، الترمذي، أبو عيسى، سنن الترمذى (11/18)
[13]  رواه الطبري في تفسيره (15/60)، بإسناد حسن. وأخرجه أيضًا: الدارمى (1/18 ، رقم 11). "أَخْبَرَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا رَيْحَانُ - هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ - حَدَّثَنَا عَبَّادٌ - هُوَ ابْنُ مَنْصُورٍ - عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ عَنْ عَطِيَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَبِيعَةَ الْجُرَشِىَّ يَقُولُ أُتِىَ النَّبِىُّ ( فَقِيلَ لَهُ لِتَنَمْ عَيْنُكَ وَلْتَسْمَعْ أُذُنُكَ وَلِيَعْقِلْ قَلْبُكَ . قَالَ " فَنَامَتْ عَيْنِى وَسَمِعَتْ أُذُنَاىَ وَعَقَلَ قَلْبِى - قَالَ - فَقِيلَ لِى سَيِّدٌ بَنَى دَاراً فَصَنَعَ مَأْدُبَةً وَأَرْسَلَ دَاعِياً فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِىَ دَخَلَ الدَّارَ وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ وَرَضِىَ عَنْهُ السَّيِّدُ وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِىَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ وَلَمْ يَطْعَمْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ وَسَخِطَ عَلَيْهِ السَّيِّدُ قَالَ فَاللَّهُ السَّيِّدُ وَمُحَمَّدٌ الدَّاعِى وَالدَّارُ الإِسْلاَمُ وَالْمَأْدُبَةُ الْجَنَّةُ."
[14]  أخرجه أحمد والبيهقي عن أبي ذر. أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «قد أفلح من أخلص قلبه للإيمان، وجعل قلبه سليماً، ولسانه صادقاً، ونفسه مطمئنة، وخليقته مستقيمة، وأذنه مستمعة، وعينه ناظرة، فأما الأذن فقمع، والعين مقرة لما يوعي القلب، وقد أفلح من جعل قلبه واعياً ». راجع: أبو عبدالله أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال بن أسد الشيباني. الفقيه والمحدث، صاحب المذهب، مسند أحمد (46/341 ، رقم 21916)، عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي، الدر المنثور في التأويل بالمأثور (3/278)
[15]  فخر الدين الرازى، التفسير الكبير ومفاتيح الغيب، ج. 11 ص. 13.
[16]  ابن قيم الجوزية، مفتاح دار السعادة، جـ 1، بيروت: دار الكتب العلمية (د.ت) ص189-194
[17]  انظر: مفتاح دار السعادة، جـ 1، ص: 117
[18]  ابن قيم الجوزية، طريق الهجرتين وباب السعادتين، بيروت: دار مكتبة الحياة، 1980 مـ، ص: 232-233.

Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi Terbesar dari Konya-Persia

          Dua orang bertengkar sengit di suatu jalan di Konya. Mereka saling memaki, “O, laknat, jika kau mengucapkan sepatah makian terh...